Selain itu, ada cara-cara lain lain yang ditempuh netizen untuk bisa menyalurkan kejulidannya. Seperti memadukan berbagai bahasa yang pada dasarnya misuh atau mengumpat juga. Tak sedikit netizen mencampur bahasa Inggris, lalu bahasa Indonesia, ditambah bahasa Jawa, bahasa Sunda, atau bahasa lokal lainnya, agar komentar tersebut tidak di-report atau di-banned oleh media sosial terkait, seperti Instagram atau Tiktok.
Infonya, gegara serangan massif, sistematis, dan terstruktur pasukan Julid Fi Sabilillah, penyedia platform media sosial pada kalang-kabut. Postingan soal Palestina atau Hamas dengan cepat hilang, dihapus, bahkan akun yang dianggap menyebut ‘kata-kata haram’ ditangguhkan oleh otoritas media sosial terkait.
Namun netizen tidak menyerah. Mereka terus berijtihad dan memutar otak agar tetap bisa menyalurkan hasrat julid dengan aman.
Cara kreatif lain dilancarkan, seperti membombardir kubu pro Israel dengan dagangan netizen, love scam yang muaranya tetap umpatan, membuat akun bodong berupa perempuan AI yang dipakai untuk menggoda agar tentara Israel memberikan nomornya, lalu berujung “silaturahmi bersama-sama”, mengirimkan file-file penipuan seperti folder apk, bahkan ada juga yang berpikir menggunakan nomor tentara Israel untuk melakukan pinjaman online alias pinjol.
Netizen Indonesia juga rajin mengedit foto-foto tentara Israel. Tentara Israel paling gerah ketika fotonya diedit menjadi pendukung Palestina. Tak sedikit pula foto-foto mereka diubah menjadi ‘meme’.
Netizen juga mengamati tentara Israel tersulut emosinya jika membahas putra Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang piknik di Amerika Serikat ketika tentaranya mati-matian berusaha melenyapkan Hamas.
Yang mutakhir, netizen menyiapkan serangan umum ke tentara Israel. Sebagai permulaan, Komandan Satuan Operasi Khusus Netizen Julid Anti-Israel menjalankan dua operasi, yaitu operasi umum dan khusus.





