Setelah Al-Mawardi, muncul lebih banyak lagi intelektual muslim yang menggarap bidang kajian politik kekuasaan dan pemerintahan ini. Mereka adalah Imam Al-Haramain Abul Ma’ali Al-Juwaini (w. 478) yang menulis kitab Ghiyats Al-Umam fi Iltiyats Al-Zhulam (Pertolongan bagi Rakyat yang Berkubang Kezaliman).
Setelah itu, pada abad ke-6 Hijriyah, muncul Abu Hamid al-Ghazali yang mengarang kitab berbahasa Persia, kemudian disalin ke bahasa Arab menjadi Al-Tibru Al-Masbuk fi Nashihah Al-Muluk (Emas Murni: Sebuah Nasihat untuk Para Raja). Imam Ghazali sendiri sangat populer di kalangan santri dan komunitas pondok pesantren.
Setelah masa Al-Ghazali, muncul lagi nama-nama besar pemikir politik Islam teoritis, antara lain: Abu Bakar Muhammad bin Muhammad bin Walid Al-Fihri Al-Thurthusyi, pengarang kitab Siraj Al-Muluk (Sejarah Para Raja); dan Abdurrahman bin Abdullah Asy-Syirazi, pengarang kitab Al-Manhaj Al-Masluk fi Siyasah Al-Muluk (Metodologi Politik Para Raja).
“Pada abad ke-8 Hijriyah, muncul lagi seorang intelektual muslim yang populer, sebagaimana populernya Al-Mawardi, Al-Juwaini dan Al-Ghazali. Beliau adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdusslam bin Taimiyah, pengarang kitab Al-Siyasah Al-Syar’iyyah fi Ishlah Al-Ra’i wa Al-Ra’yah (Politik Agama: Memperbaiki Pemimpin dan Rakyat),” kata Aguk.
Ada juga Imam Badruddin bin Jama’ah (w. 733) pengarang kitab Tahrir Al-Ahkam fi Tadbir Ahl AL-Islam (Perincian Hukum untuk Penduduk Islam). “Kitab ini bisa dibilang luar bisa detail dalam mengkaji hubungan antara negara Islam dan negara kafir, perang, dan perdamaian di antara kedunya,” jelas Aguk.
Lalu, Aguk menambahkan, pada abad 9 Hijriyah ada Abul Abbas Ahmad bin Ali bin Ahmad Al-Qalqasyandi Al-Qahiri, pengarang kitab Maatsir Al-Inafah fi Ma’alim Al-Khilafah (Jejak-Jejak Kemuliaan: Pelajaran Penting tentang Kekhilafahan). Setelah itu, semakin banyak intelektual yang menggarap kajian politik Islam.
Dalam konteks pendidikan literasi, kadangkali Baitul Kilmah boleh dibilang selangkah lagi lebih maju. Sebab, Ponpes Kreatif ini tidak saja memperkenalkan para santri untuk mengenal literasi dan hubungannya dengan kesenian, tetapi juga hubungan literasi dan politik praktis/kekuasaan.◼︎




