Tasyakuran Tahun Baru Hijriyah kembali digelar. Di baliknya, para jemaah putri Shiddiqiyyah memainkan peran strategis dalam syiar Islam yang membumi dan merangkul lintas kalangan.
__________
Ada yang khas dalam cara keluarga besar Tarekat Shiddiqiyyah menyambut datangnya Tahun Baru Hijriyah. Bukan pesta kembang api, bukan pula sekadar dzikir massal. Tapi sebuah acara yang diberi nama Tasyakuran Tahun Baru Hijriyah (TTBH), sebuah syiar tahunan yang sarat spiritualitas dan nilai kebangsaan.
Tahun ini, Bengkulu menjadi tuan rumah. Kota ini terpilih melalui undian terbuka—sebuah tradisi yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari TTBH. Tahun lalu, giliran Serang yang mendapat kehormatan. Dua tahun sebelumnya, Balikpapan.
Acara ini memang dirancang untuk berpindah-pindah, menebarkan syiar dari satu penjuru Nusantara ke penjuru lainnya.
Yang menarik, seluruh pelaksanaan acara diserahkan kepada Jami’iyyah Kautsaran Putri Hajarulloh Shiddiqiyyah (JKPHS)—organisasi putri dalam lingkup Shiddiqiyyah.
Sejak awal, JKPHS dikenal sebagai motor penggerak syiar yang lembut namun menyentuh akar–sebagaimana arahan Sang Mursyid, Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi. Melalui pendekatan khas yang membumi, para perempuan ini hadir bukan hanya sebagai pelengkap seremoni, tapi aktor utama dalam ruang-ruang pengabdian spiritual.
“Acara ini bukan semata-mata peringatan. Ini adalah ruang dakwah yang memberi tempat bagi perempuan untuk berperan strategis dalam syiar Islam,” ujar Ketua Umum JPKHS, Pujiarti, yang juga adik dari Ibu Nyai Shofwatul Ummah, istri Sang Mursyid.
Dengan konsep tasyakuran yang jauh dari formalitas kosong, TTBH dirancang sebagai perjumpaan rohani yang membangun kembali tali ukhuwah. Mulai dari tausiyah, pembacaan doa, hingga proses undian lokasi tahun depan—semuanya disusun dalam semangat kebersamaan.
Setiap tahun, suasana hangat, haru, dan penuh energi spiritual menjelma menjadi denyut utama acara.***





