Wearable atau perangkat yang dapat dikenakan di tubuh menjadi tren yang kian digemari beberapa tahun terakhir—seperti jam tangan pintar atau smartwatch pemantau kebugaran. Tetapi, berdasarkan riset, barang-barang trendi itu ternyata mengandung bahaya.
Riset baru dari Universitas Notre Dame mengungkap, produk populer itu dapat membuat pengguna terpapar zat berbahaya, yang dikenal sebagai “bahan kimia abadi”—khususnya PFAS (per- and polyfluoroalkyl substances).
PFAS adalah bahan kimia buatan manusia yang bersifat antiair dan antiminyak.
Banyak tali jam tangan pintar premium dibuat dari fluoroelastomer, bahan yang dikenal karena daya tahannya, fleksibilitasnya, dan ketahanannya terhadap keringat, yang biasanya ideal untuk penggunaan sehari-hari.
Namun, menurut penelitian, dalam bahan ini mengandung PFAS beracun, yang terkait dengan masalah kesehatan serius.
Meski bahan kimia ini diakui karena keawetannya dan sifat antiairnya, keberadaannya dalam produk konsumen menimbulkan masalah kesehatan yang signifikan.
PFAS persisten di lingkungan dan dapat terakumulasi dalam tubuh manusia dari waktu ke waktu, yang menyebabkan potensi risiko kesehatan jangka panjang.
Menurut hasil Studi di Notre Dame, para peneliti menemukan kadar asam perfluoroheksanoat (PFHxA) yang tinggi di 22 gelang kebugaran dan jam tangan pintar yang diuji.
Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (AS) pun mengklasifikasikan PFHxA sebagai zat yang mungkin berbahaya bagi perkembangan, sel darah, fungsi hati, dan hormon. Penelitian lain menunjukkan bahwa PFAS dapat diserap melalui kulit.
Sebuah studi tahun 2024 yang diterbitkan di Environment International juga mengonfirmasi bahwa bahan kimia ini dapat menembus kulit dan memasuki aliran darah.
Mengingat banyak orang mengenakan jam tangan pintar dan pelacak kebugaran untuk waktu yang lama setiap hari, hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang peningkatan paparan.
PFAS disebut sebagai bahan kimia abadi karena tidak terurai setelah dilepaskan ke lingkungan. Bahan kimia ini terakumulasi dalam satwa liar dan menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang bagi manusia.
Kontaminasi PFAS semakin diakui sebagai krisis kesehatan masyarakat.
Bahan kimia ini beracun bahkan pada konsentrasi yang sangat rendah dan telah dikaitkan dengan penekanan sistem kekebalan tubuh, risiko kanker, perkembangan janin yang buruk, dan berkurangnya efektivitas vaksin.
Temuan studi Notre Dame mengkhawatirkan yakni setiap pita fluoroelastomer yang diuji mengandung PFAS, dengan beberapa sampel menunjukkan kadar PFHxA melebihi 16.000 bagian per miliar (ppb).





