Jalan Panjang Arkan Fawwaz Pimpin Mahasiswa MANPK Nasional

Muhammad Arkan Fawwaz Iswar, Ketua Umum Pertama Pengurus Pusat Mahasiswa Alumni Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MANPK) se-Indonesia dalam Musyawarah Nasional (Munas) I di UIN Sunan Ampel Surabaya, 28–29 Oktober 2026. (Istimewa) 

Dari sebuah desa di Lombok Timur, Muhammad Arkan Fawwaz Iswar merajut asa dan menyatukan ribuan mahasiswa. Kini, ia memikul amanah besar sebagai Ketua Umum Pertama Mahasiswa Alumni MANPK se-Indonesia, membawa visi kolaborasi kebangsaan.

Langkahnya bermula dari Rempung, sebuah desa di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Namun, visi pemuda ini melampaui batas daratan asalnya.

Muhammad Arkan Fawwaz Iswar resmi mencetak sejarah usai terpilih sebagai Ketua Umum Pertama Pengurus Pusat Mahasiswa Alumni Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MANPK) se-Indonesia dalam Musyawarah Nasional (Munas) I di UIN Sunan Ampel Surabaya, 28–29 Oktober 2026.

Menempa Diri Sejak Dini

Kapasitas kepemimpinan Arkan tidak jatuh dari langit. Putra pasangan Ismul Basar dan Wardah Hamid ini meniti jalan organisasinya sejak bangku sekolah dasar.

Bacaan Lainnya

Berawal dari panggung dai cilik, ia membangun fondasi keberanian dan retorika publik. Di atas papan catur yang ia tekuni sejak usia di bawah sepuluh tahun, Arkan mengasah ketajaman strategi dan kepekaan membaca situasi.

Saat menempuh pendidikan di MTsN 1 Lombok Timur, ia mulai memegang kemudi organisasi sebagai sekretaris umum. Tradisi kepemimpinan itu terus meruncing saat ia memasuki MANPK, tempat ia mematangkan narasi lewat berbagai kompetisi pidato tingkat nasional.

Di luar mimbar dan kelas, Arkan menempa keteguhan mental dan disiplin melalui pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).

Kematangan ini membawanya ke UIN Sunan Ampel Surabaya. Di kampus bernapas Islam ini, Arkan menjabat Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Ilmu Hadis, memimpin Forum Mahasiswa Lombok, hingga mendirikan Forum Mahasiswa Rempung untuk mengabdi pada kampung halamannya.

Tidak berhenti di situ, ia merambah ranah literasi sebagai Pimpinan Redaksi Lentera Biru dan menjabat Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadis Jawa Timur.

Jalan Panjang Menyatukan Simpul

Lahirnya wadah nasional Mahasiswa Alumni MANPK bukanlah proyek semalam. Gagasan ini bermula dari cangkrukan sederhana mahasiswa alumni MAPK/MANPK di kawasan Surabaya.

Bersama tim inisiator, Arkan menolak membiarkan ide mulia itu menguap sebagai wacana warung kopi. Ia memilih turun ke jalan, merajut simpul yang terserak.

Arkan dan tim menempuh perjalanan darat yang melelahkan. Mereka mengetuk pintu alumni di Malang dan Tulungagung, menembus belantara beton Jakarta selama delapan hari, menyusuri Yogyakarta dan Solo, hingga singgah di Semarang.

Perjuangan itu ia lanjutkan dengan terbang ke Lombok untuk mengonsolidasikan dukungan.

Safari panjang ini bertujuan menyatukan frekuensi mahasiswa dari sebelas titik MANPK, mulai dari Padang Panjang, Ciamis, Yogyakarta, Solo, Jombang, Jember, Batam, Samarinda, Martapura, Mataram, hingga Makassar.

Mereka merangkul perbedaan pandangan, meyakinkan banyak kepala, dan memegang teguh satu prinsip luhur: Al-fadlu lil-mubtadi wa in ahsanal-muqtadi—keutamaan tetap milik sang perintis, meski penerusnya kelak melangkah lebih jauh.

Merawat Warisan, Menebar Dampak

Munas I yang mengusung tema “39 Tahun MANPK Berkhidmat dan Berdampak” menjadi titik kulminasi ikhtiar Arkan. Acara bersejarah ini menyedot perhatian tokoh nasional. Rektor UIN Sunan Ampel, Prof. Masdar Hilmy membuka forum, disaksikan langsung oleh tokoh sekaliber Prof. Masnun (Ketua Forum Rektor PTKIN), Pimpinan BAZNAS RI Dr. Rizaluddin Kurniawan, hingga pakar tafsir internasional Gus Awis.

Kehadiran para cendekiawan ini menegaskan satu hal: konsolidasi mahasiswa alumni MANPK bukan sekadar ajang kumpul-kumpul. Ini adalah embrio jejaring intelektual masa depan.

Sejak berdiri pada 1987 atas inisiatif Menteri Agama Munawir Sjadzali, MAPK/MANPK telah melahirkan diaspora alumni yang mengisi ruang birokrasi, akademisi, hingga politik.

Kini, tantangan berada di pundak Arkan. Memimpin organisasi yang baru lahir menuntut tata kelola tangguh, komunikasi lentur, dan program nyata. Arkan harus membuktikan bahwa mahasiwa MANPK hari ini mampu menerjemahkan khazanah keislaman masa lalu menjadi solusi bagi problem kebangsaan masa kini.

Munas I telah usai, tetapi bagi pemuda dari Desa Rempung ini, pekerjaan besar baru saja dimulai.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan