Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya siap menghadapi perang panjang melawan koalisi AS-Israel dan membantah klaim Trump.
KOSONGSATU.ID—Dalam wawancara dengan program “Face The Nation” di kanal CBS, Minggu (15/3/2026), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Teheran tidak pernah meminta gencatan senjata maupun negosiasi di tengah serangan intensif yang dilancarkan AS dan Israel sejak 28 Februari 2026.
“Kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan kami bahkan tidak pernah meminta negosiasi. Kami stabil dan cukup kuat. Kami hanya membela rakyat kami,” tegas Araghchi, sebagaimana dilansir dari AFP.
Pernyataan ini merupakan respons langsung terhadap klaim Trump sehari sebelumnya, yang menyebut Iran menginginkan kesepakatan damai. Araghchi menambahkan bahwa sejarah hubungan diplomatik kedua pihak tidak memberikan preseden yang baik untuk berunding.
Serangan di Isfahan Tewaskan 15 Warga
Pernyataan Araghchi disampaikan di tengah serangan AS dan Israel yang terus berlanjut. Pada Sabtu (14/3/2026), rudal menghantam sebuah pabrik di provinsi Isfahan, Iran tengah, menewaskan sedikitnya 15 orang.
Sejak pecahnya konflik pada 28 Februari 2026, serangan gabungan AS-Israel telah menewaskan sekitar 1.200 orang di Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu Ayatollah Ali Khamenei.
Iran merespons dengan meluncurkan lebih dari 2.100 drone, 500 rudal balistik, dan 20 rudal jelajah ke wilayah Israel dan pangkalan AS di kawasan Teluk.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah melancarkan gelombang ke-52 serangan balasan yang menargetkan sektor industri di Israel dan pasukan AS di Timur Tengah.
Dalam perkembangan terbaru, IRGC mengeluarkan ancaman terbuka untuk “terus memburu” Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai balasan atas serangan yang menewaskan pemimpin sebelumnya.
Israel Perluas Serangan ke Lebanon Selatan
Di front lain, Israel memperluas operasi militernya dengan menghantam sejumlah lokasi di Lebanon selatan. Serangan darat dan udara dilaporkan terjadi di wilayah Nabatieh, Sidon, dan Al-Qatrani.





