Otoritas kesehatan Lebanon mengonfirmasi sedikitnya 14 orang tewas dalam serangan terbaru, termasuk empat anak di bawah umur yang tewas di Nabatieh. Empat lainnya tewas di Sidon, dan tiga tewas di Al-Qatrani.
Secara keseluruhan, sejak eskalasi dimulai pada 2 Maret 2026, sedikitnya 826 orang tewas di Lebanon akibat serangan Israel. Ribuan warga mengungsi dari desa-desa perbatasan untuk menyelamatkan diri.
Militer Israel, IDF, menyatakan telah melancarkan gelombang serangan terhadap infrastruktur Hizbullah di seluruh Lebanon, termasuk melumpuhkan pusat komando pasukan elit Radwan di Beirut.
IDF juga mengeluarkan perintah evakuasi paksa bagi penduduk di sejumlah lingkungan ibu kota Lebanon.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak penghentian pertempuran dan menegaskan bahwa “rakyat Lebanon tidak memilih perang ini, tetapi terseret ke dalamnya.”
Seruan Trump untuk Koalisi Angkatan Laut
Di tengah meluasnya konflik, Presiden AS Donald Trump kembali menyerukan pembentukan koalisi angkatan laut internasional untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Sabtu (15/3/2026), Trump menulis bahwa negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak dari Teluk harus berkontribusi menjaga jalur tersebut.
“Negara-negara di dunia yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur itu, dan kami akan membantu – BANYAK!” tulis Trump.
Namun, seruan ini mendapat respons hati-hati dari sejumlah negara. Jepang menyatakan akan mempertimbangkan dengan cermat karena kendala konstitusi, sementara China diperkirakan akan menolak bergabung dalam koalisi pimpinan AS.
Iran sendiri menegaskan bahwa Selat Hormuz hanya ditutup untuk kapal AS dan Israel, tidak untuk negara lain.***





