Sementara itu, Al Jazeera melaporkan proposal Iran merupakan respons terhadap usulan sembilan poin yang didukung Washington. Iran disebut ingin penyelesaian perang dicapai dalam 30 hari, bukan sekadar memperpanjang gencatan senjata.
Rincian penuh proposal tersebut belum diumumkan secara resmi. Karena itu, klaim teknis mengenai pembekuan pengayaan uranium, batas kadar pengayaan, atau masa pembatasan nuklir perlu menunggu dokumen resmi atau konfirmasi langsung dari pihak terkait.
AS Luncurkan Operasi di Hormuz
Ketegangan meningkat setelah Trump meluncurkan Project Freedom, operasi militer AS untuk membuka kembali pelayaran di Selat Hormuz.
Reuters melaporkan militer AS mengerahkan kapal perang, lebih dari 100 pesawat, aset bawah laut, dan sekitar 15.000 personel dalam operasi tersebut. Washington menyebut operasi itu bertujuan melindungi kapal niaga dan memulihkan kebebasan navigasi.
Komando Pusat AS juga mengklaim telah menghancurkan enam kapal kecil Iran serta mencegat rudal dan drone. Iran membantah sebagian klaim tersebut dan memperingatkan kapal militer asing agar tidak memasuki Selat Hormuz tanpa koordinasi.
Dalam laporan terpisah, Reuters menyebut kapal berbendera AS milik anak usaha Maersk telah melintasi Selat Hormuz dengan pendampingan militer AS.
Kebuntuan diplomasi membuat risiko eskalasi di kawasan Teluk tetap tinggi. Tanpa kesepakatan baru, gangguan terhadap jalur energi global dan stabilitas Timur Tengah masih berpotensi berlanjut. ***





