Ia juga mengatakan bahwa hal itu akan memicu “eskalasi besar-besaran yang akan memancing respons, bukan hanya dari kami, tapi juga dari negara-negara lain.”
AS sendiri menempatkan Armada Kelima Angkatan Lautnya di Bahrain, yang bertugas mengamankan jalur perdagangan maritim di kawasan Teluk Persia
Sampai sekarang, belum ada tanggapan langsung dari Kedutaan Besar China di AS atas pernyataan Rubio tersebut.
Iran Ancam Tutup Selat Hormuz
Sebelumnya, media pemerintah Iran pada Ahad, 22 Juni 2025, mengumumkan kalau parlemen Iran telah menyetujui mosi untuk menutup Selat Hormuz yang strategis. Keputusan final untuk menutup Selat Hormuz, menurut laporan Press TV, akan diambil oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Iran sejak lama menggunakan ancaman penutupan Selat Hormuz sebagai cara untuk menangkal tekanan Barat yang sekarang mencapai puncaknya setelah serangan AS terhadap fasilitas nuklirnya. Ketika ditanya apakah Iran akan menutup Selat Hormuz, Menlu Abbas Araghchi mengelak untuk menjawab: “Berbagai pilihan tersedia bagi Iran.”
Selat Hormuz merupakan salah satu titik rawan maritim paling penting di dunia, yang berfungsi sebagai pintu gerbang utama ekspor minyak dari kawasan Teluk. Terletak di antara Iran di utara dan Oman serta UEA di selatan, jalur air sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sekitar 20 persen pasokan minyak global, lebih dari 17 juta barel per hari, melewati selat strategis ini, sehingga sangat penting bagi pasar energi internasional.
Iran sendiri merupakan produsen minyak terbesar ketiga di OPEC, yang menghasilkan 3,3 juta barel per hari. Iran mengekspor 1,84 juta barel per hari bulan lalu. Menurut Kpler, sebagian besar minyak Iran dijual ke China. Sekitar setengah dari impor minyak mentah China melalui perairan berasal dari Teluk Persia. ***





