Pemerintah Irak secara resmi mengumumkan keterlibatannya dalam konflik melawan Amerika Serikat dan Israel, menyusul serangan udara yang menewaskan sejumlah komandan Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) yang beraliansi dengan Iran.
Pengumuman ini menandai eskalasi signifikan pada hari ke-26 perang, mengubah Irak dari sekadar “wilayah operasi” menjadi pihak yang secara terbuka menyatakan diri terlibat.
“Irak akan merespons dan membela diri terhadap serangan yang menargetkan Pasukan Mobilisasi Populer,” demikian bunyi pernyataan resmi pemerintah Irak yang dirilis Selasa (24/3) malam waktu setempat.
View on Threads
Serangan terhadap PMF Jadi Pemicu
Menurut pejabat Irak, AS dan Israel melakukan serangan udara terhadap sejumlah posisi PMF dalam beberapa hari terakhir. Serangan itu menewaskan beberapa komandan lapangan yang memiliki hubungan dekat dengan Iran.
Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) atau Hashd al-Sha’bi adalah payung bagi puluhan milisi Syiah Irak, banyak di antaranya didukung dan dilatih Iran. Kelompok ini secara resmi telah diintegrasikan ke dalam angkatan bersenjata Irak, namun tetap memiliki garis komando sendiri yang dekat dengan Teheran.
Konteks Eskalasi Regional
Deklarasi Irak terjadi di tengah eskalasi konflik yang semakin melebar secara regional. Sehari sebelumnya, Iran meluncurkan gelombang ke-79 Operasi Janji Sejati 4 dengan rudal balistik menghantam fasilitas intelijen Israel di Tel Aviv, Ramat Gan, dan Beersheba.
Selain itu, Iran juga mengangkat mantan komandan IRGC Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional, menggantikan Ali Larijani yang tewas dalam serangan AS-Israel pekan lalu. Serangan terhadap infrastruktur energi dan teknologi di Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab juga terus berlanjut.
Posisi Irak yang Rentan
Keterlibatan Irak memiliki konsekuensi berat. Negara ini selama dua dekade terakhir menjadi medan pertempuran pengaruh antara AS dan Iran. Saat ini, sekitar 2.500 personel militer AS masih ditempatkan di Irak untuk misi anti-ISIS.
Dengan masuknya Irak secara resmi, konflik yang awalnya merupakan pertempuran langsung antara Iran melawan AS dan Israel kini berpotensi melibatkan negara-negara Arab secara lebih terbuka.





