Perut Kenyang, Guru Tetap Terabaikan

Ilustrasi ironi pendidikan: anggaran negara melimpah untuk program, tetapi banyak guru honorer masih bertahan dengan penghasilan yang jauh dari layak. AI GENERATE
Negara menggelontorkan ratusan triliun untuk MBG, tetapi mayoritas guru honorer masih hidup dengan gaji yang jauh dari layak.

Faried Wijdan | Penulis Samudrafakta.com

Masalah lebih ada pada cara pemerintah menyusun prioritas pendidikan: berani belanja besar untuk satu program, tetapi lamban memperbaiki nasib pendidik. 

Dalam APBN 2025, pemerintah mengalokasikan Rp71 triliun untuk program Makan Bergizi Gratis. Setahun sesudahnya, Kepala Badan Gizi Nasional menyebut pagu anggaran 2026 mencapai Rp268 triliun, dengan porsi MBG sebesar Rp248 triliun. Angka ini menunjukkan betapa besar daya dorong fiskal negara untuk program tersebut. 

Masalahnya, keberanian fiskal itu tidak tampak sebanding ketika negara berhadapan dengan kesejahteraan guru honorer. Survei IDEAS pada 2024 menunjukkan sekitar 74 persen guru honorer masih berpenghasilan di bawah Rp2 juta per bulan. Bahkan, 20,5 persen di antaranya menerima kurang dari Rp500 ribu. 

Bacaan Lainnya

Di titik inilah ironi pendidikan Indonesia terlihat sangat telanjang. Negara tampak sigap menyiapkan anggaran agar anak-anak makan lebih baik, tetapi belum menunjukkan ketegasan yang sama untuk memastikan guru bisa hidup layak.

Padahal, ruang kelas tidak dibangun hanya dengan makanan, melainkan juga oleh tenaga pengajar yang utuh lahir batin.

Ketika Guru Dipaksa Bertahan

Guru honorer yang terus dihimpit penghasilan minim tidak hanya memikul beban ekonomi, tetapi juga tekanan psikologis yang berkepanjangan. Sulit berharap kualitas pembelajaran tumbuh maksimal bila pengajarnya setiap hari dibayangi cicilan, kebutuhan rumah tangga, dan pekerjaan sampingan demi bertahan hidup.

Di tengah situasi itu, seruan agar guru semata-mata meningkatkan kualitas tanpa menyinggung kesejahteraan terdengar problematis. Profesionalisme memang penting, tetapi profesionalisme tidak lahir dari romantisme pengabdian yang menutup mata atas ketimpangan. Pendidikan yang sehat membutuhkan guru yang dihargai secara manusiawi.

Menyeimbangkan Ulang Prioritas

Program gizi bagi siswa tentu penting dan layak didukung. Namun, negara semestinya tidak memisahkan kesehatan tubuh murid dari kesejahteraan guru. Keduanya adalah satu paket investasi pendidikan. Murid yang kenyang memang lebih siap belajar, tetapi guru yang sejahtera membuat proses belajar itu benar-benar bermakna.

Pos terkait