Mereka diarahkan menjauhi perspektif keislaman dan menulis ulang sejarah dengan sudut pandang sekuler-keraton. Inilah yang memisahkan pujangga dari pesantren, dan menciptakan jurang antara priyayi dan santri.
5. Jaringan Misionaris dan Penulis Bayangan
Bukan hanya lembaga formal, Belanda juga mendanai penulisan naskah-naskah kontroversial.
Contohnya, Babad Kediri yang ditulis oleh jaksa kolonial Mas Ngabehi Purbowijoyo dengan klaim bersumber dari jin, atau Suluk Gatoloco yang secara vulgar menghina Islam. Ini adalah proyek literasi untuk merusak citra ulama dan ajaran pesantren.
Selain itu, karya seperti Kidung Sunda dan Serat Pararaton digunakan sebagai alat propaganda adu domba: menciptakan kisah Perang Bubat yang tak ditemukan di prasasti Majapahit, atau menggambarkan Ken Arok sebagai tokoh amoral untuk melemahkan legitimasi keturunan Majapahit seperti Mataram.
6. Jaringan Orientalis Eropa
Di luar Hindia Belanda, pusat-pusat studi Timur di Belanda dan Jerman turut berperan. Mereka menerbitkan karya-karya yang menyelewengkan sejarah Islam di Nusantara.
Salah satu yang paling berpengaruh adalah Kalangwan karya Zoetmulder, yang mengabaikan eksistensi sastra Islam di Jawa dan hanya mengangkat karya-karya Hindu-Buddha.
__________
Sejarawan Agus Sunyoto, dalam banyak forum menegaskan: penjajahan Belanda terhadap Indonesia juga merupakan penjajahan atas memori. Melalui lembaga-lembaga ini, mereka memproduksi “sejarah versi penjajah” yang menjauhkan umat Islam dari identitas aslinya.
Kini, tantangannya adalah membongkar warisan itu—menyaring kembali sumber sejarah, membandingkan dengan prasasti asli, dan menyusun narasi baru yang lebih jujur terhadap fakta-fakta masa lalu. Sejarah yang merdeka hanya bisa lahir dari bangsa yang sadar betapa mematikan lembaga-lembaga warisan kolonial ini. ***





