Ilmuwan Bor Situs Bahtera Nuh, Jejak Laut Ditemukan di Turki

Formasi Durupinar, sebuah gundukan sepanjang 163 meter yang terletak sekitar 30 km di selatan Gunung Ararat, Turki diyakini ilmuwan merupakan sisa-sisa dari kapal Nabi Nuh. (Dailymail/DOK) 

Tim pakar internasional mengebor Formasi Durupinar di Turki demi mencari sisa Bahtera Nuh. Penemuan sedimen laut sejak 2023 makin memperkuat dugaan situs ini pernah terendam banjir dahsyat.

Pendiri Noah’s Ark Scans, Andrew Jones, menyatakan pakar internasional tengah mengebor Formasi Durupinar di Turki untuk meneliti dugaan sisa-sisa Bahtera Nuh. Pengeboran sedalam 18 meter di situs sepanjang 157 meter ini bertujuan menguji klaim yang menyebut formasi itu sekadar bongkahan batuan alam.

“Misi kami jelas, yaitu menguji kebenaran dari penjelasan mengenai batuan padat tersebut,” kata Andrew.

Ihwal struktur di bawah tanah, data radar awal dan rekaman pesawat nirawak bernama Gopher tidak memperlihatkan keberadaan batuan homogen. Pesawat nirawak itu diturunkan ke area bawah tanah yang tidak bisa diakses manusia guna mendokumentasikan bagian dalam formasi.

Bacaan Lainnya

“Belum ada batuan dasar atau batu kapur padat yang teridentifikasi dalam lubang-lubang yang dibor di dalam formasi tersebut,” ujar Andrew menegaskan temuan awalnya.

Penelitian Batuan Sejak 2023

Sebelumnya, inisiatif penelitian gabungan telah mengumpulkan sekitar 30 sampel tanah dan batuan dari kawasan tersebut pada 2023. Sampel dari situs yang berdekatan dengan Gunung Ararat ini kemudian dikirim ke Universitas Teknik Istanbul untuk dianalisis lebih lanjut.

Namun, kajian ini sempat memicu perdebatan di kalangan akademisi. Pakar kreasionis dari Universitas Sydney, Dr. Andrew Snelling, menolak teori bahwa lokasi itu merupakan tempat berlabuhnya Bahtera Nuh akibat faktor usia geologis.

“Gunung Ararat tidak bisa menjadi lokasi bahtera karena gunung tersebut baru terbentuk setelah air banjir surut,” kata Snelling.

Jejak Laut dan Aktivitas Manusia

Selain itu, riset lanjutan pada 2025 memberikan petunjuk baru mengenai masa lalu situs geologi setinggi 163 meter yang tersusun dari bijih besi tersebut. Wakil Rektor Universitas Ağrı İbrahim Çeçen, Profesor Faruk Kaya, memimpin identifikasi jejak material tanah liat, endapan laut, dan sisa makanan laut di lokasi itu.

Indikator tersebut memperkuat teori bahwa kawasan pegunungan ini pernah terendam banjir raksasa antara 5500 hingga 3000 Sebelum Masehi. Bukti tambahan mengenai genangan air pada masa lampau itu sejalan dengan literatur sejarah tentang keberadaan bahtera peninggalan tersebut.

“Berdasarkan hasil awal, diperkirakan ada aktivitas manusia di wilayah ini sejak periode Kalkolitik,” kata Faruk.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan