JAKARTA—Untuk membenarkan invasinya ke Palestina, Israel memanfaatkan politik Hasbara, yakni strategi untuk membangun citra diri Israel sebagai “bukan penjajah”—lebih-lebih sejak entitas zionis itu mulai melancarkan agresi ke Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023 lalu.
Sebagaimana dilansir dari laman The New Arab, nama strategi propaganda itu diambil dari bahasa Ibrani, hasbara, yang berarti “menjelaskan”. Strategi ini dirancang sudah sejak awal abad ke-20, terutama melalui jejak-jejak pemikiran Nahum Sokolow, seorang aktivis dan jurnalis Zionis berkebangsaan Polandia.
Hasbara bisa disebut sebagai strategi propaganda politik di era modern. Namun, seiring perkembangan ekspansi Israel di Palestina, praktik-praktik strategi ini terus berubah. Pemerintah Israel sering memanfaatkannya secara kasus per kasus, terutama untuk merekayasa dalih atau pembenaran aksi-aksi kolonialnya.
Hasbara menggunakan pelbagai cara untuk membangun citra diri Israel, termasuk memanfaatkan pembuatan konten-konten video, infografis, dan posting di media-media sosial. Walau tak diakui secara terbuka, Zionis pun merekrut para influencers yang memiliki banyak pengikut di jagat maya.
Dalam konteks invasi Israel ke Jalur Gaza kini, misalnya, Hasbara digunakan untuk memberikan pembenaran (to justify) serangan militer Israel (IDF) atas area-area yang dihuni penduduk sipil yang tidak bersenjata—di mana di dalamnya termasuk kaum ibu, anak-anak, dan para bayi.
IDF juga menyasar banyak infrastruktur publik yang esensial, semisal jalan raya, akses air bersih, dan tempat-tempat ibadah.
Dengan Hasbara pula Zionis membangun narasi bahwa aksi militer ini terjadi secara “setara.” Maksudnya, di satu pihak ada Israel, sedangkan pada pihak lain adalah Hamas. Padahal, berulang-ulang kali Israel menyerang penduduk sipil dengan dalih “menarget” Hamas.*





