“Tanpa pemerintahan politik di Haiti, tidak ada jangkar yang bisa menjadi sandaran penempatan polisi,” kata Sekretaris Utama Urusan Luar Negeri Kenya Korir Sing’oei.
Namun dalam perkembangan terbaru Rabu ini, Kenya disebut telah mengambil langkah maju untuk mengirimkan polisi sebagai bagian dari misi internasional—yang sebagian besar didanai oleh Amerika Serikat (AS) dan Kanada—untuk memulihkan ketertiban di Haiti.
AS dikabarkan telah menyuarakan optimisme bahwa misi tersebut akan terus berjalan, apalagi setelah pemerintahan baru terbentuk di Haiti.
Meski demikian sejumlah pengamat menilai, menyingkirkan Henry dan mencari solusi politik saja tidak otomatis menyelesaikan krisis keamanan akut di Haiti. Negeri itu masih bisa terjerumus ke dalam “mimpi buruk terburuk” komunitas internasional, jika seorang pemimpin geng merebut istana presiden.
“Para pemimpin politik tanpa legitimasi dapat menyebabkan ketidakstabilan lebih lanjut,” ujar kepala staf dan penasihat senior di Wilson Center di Washington, Eddy Acevedo.
“Kepolisian nasional yang masih baru – yang dipandang oleh Amerika Serikat sebagai kunci stabilitas di masa depan – berpotensi meletakkan senjata jika pasukan tersebut merasa tidak mendapat dukungan yang kuat,” tambahnya.
Sementara itu, menurut Wakil Presiden Program Amerika Latin di Institut Perdamaian AS dan mantan diplomat AS, Leith Mines, transisi ini Haiti merupakan sebuah langkah besar dan tidak terduga. “Dan, sejujurnya, jika bukan karena krisis keamanan, hal ini (transisi pemerintahan) mungkin tidak akan terjadi,” ujar .
“Saya pikir hal ini membuka banyak kemungkinan baru, namun kemungkinan-kemungkinan tersebut masih harus dikelola dengan sangat hati-hati dan harus didukung secara tegas oleh komunitas internasional, khususnya AS,” ujarnya.◼︎




