Pengasuh Pesantren Denanyar Jombang resmi mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU dengan visi rekonsiliasi total, di tengah upaya transformasi keras yang dijalankan kepengurusan saat ini.
Peta persaingan menuju Muktamar Nahdlatul Ulama 2026 mulai menghangat. Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib, secara resmi menyatakan kesiapannya untuk maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Minggu (19/4/2026).
Tokoh yang akrab disapa Gus Salam ini membawa misi utama berupa perbaikan kondisi internal organisasi yang menurutnya sedang memprihatinkan. Ia menilai energi jamiah saat ini terlalu banyak terkuras oleh konflik internal dan persoalan hukum yang menjerat sejumlah pengurus.
“Satu hal prinsip yang harus kita lakukan adalah rekonsiliasi total. Tidak ada lagi pemecatan atau dominasi kepentingan personal,” ujar Gus Salam. Ia bertekad merajut kembali persaudaraan antar kader agar kewibawaan institusi kembali hadir membawa manfaat bagi seluruh umat.
Visi Rekonsiliasi vs Transformasi PBNU
Langkah pencalonan ini muncul di tengah sikap tegas kepemimpinan PBNU saat ini yang dipimpin KH Yahya Cholil Staquf. Dalam berbagai kesempatan, Ketua Umum PBNU tersebut menegaskan bahwa organisasi sedang melewati fase transformasi besar-besaran, termasuk penerapan demarkasi politik yang ketat.
Kepemimpinan saat ini menyadari bahwa agenda perubahan tersebut pasti memicu “pertarungan” dan resistensi di internal. Pihak PBNU menekankan bahwa penguatan disiplin organisasi, termasuk larangan rangkap jabatan politik, adalah harga mati demi menjaga marwah institusi agar tidak sekadar menjadi kendaraan politik.
Merespons dinamika tersebut, Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz, menilai munculnya nama baru dalam bursa calon pemimpin merupakan bagian dari proses demokrasi yang sehat. Ia optimistis bahwa perbedaan sudut pandang ini justru akan mendewasakan organisasi dalam menyongsong Muktamar mendatang.
Dukungan Wilayah dan Restu Pemerintah
Guna memperkuat basis dukungan, Gus Salam terus melakukan konsolidasi ke berbagai daerah, termasuk menemui para ulama di Yogyakarta. Ia mengajak kader untuk meneladani jiwa pengabdian pesantren dalam melayani masyarakat. Selain itu, ia juga telah menjalin komunikasi dengan Menteri Agama, Nasaruddin Umar, di Jakarta.
Menteri Agama menyambut baik munculnya figur-figur yang memiliki integritas tinggi untuk memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Ia berharap kontestasi pada tahun 2026 mampu melahirkan pemimpin yang jujur dan luwes dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.***





