Gencatan Senjata Iran–AS “Sekarat” usai Trump Tolak Balasan Tehran

Diplomasi AS-Iran berada di titik paling rapuh ketika proposal damai berubah menjadi ancaman perang baru. ILUSTRASI AI GENERATE
Presiden AS Donald Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi “sekarat” setelah menolak mentah-mentah respons terbaru Tehran atas proposal perdamaian Washington, memperburuk kebuntuan diplomatik yang telah melumpuhkan Selat Hormuz selama 10 pekan.

Trump menyampaikan penilaian itu kepada wartawan di Oval Office, Senin (11/5/2026), sehari sebelum keberangkatannya ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping — pertemuan yang kini dipandang sebagai satu-satunya peluang diplomatik tersisa untuk mencegah eskalasi militer baru.

Iran menyerahkan balasan atas proposal 14 poin AS kepada mediator Pakistan pada Minggu (10/5). Trump langsung menolaknya. “Saya bahkan tidak selesai membacanya. Ini sampah,” kata Trump.

Isi Proposal yang Memicu Jalan Buntu

Proposal AS mensyaratkan Iran menghentikan seluruh pengayaan uranium selama minimal 12 tahun dan menyerahkan 440 kg stok uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen. Sebagai imbalan, AS menawarkan pencabutan sanksi secara bertahap, pelepasan miliaran dolar aset Iran yang dibekukan, dan pencabutan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Bacaan Lainnya

Sebaliknya, Iran meminta pengakuan atas kedaulatannya di Selat Hormuz, jaminan tidak ada serangan berikutnya, kompensasi perang, pencabutan blokade AS, dan diakhirinya seluruh pertempuran termasuk di Lebanon — sembari menolak membahas program nuklir dalam tahap awal negosiasi.

Ketua Parlemen Iran: Siap Hadapi Segala Opsi

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menjabat negosiator utama Tehran, membalas pernyataan Trump dengan peringatan keras. “Tidak ada alternatif selain menerima hak-hak rakyat Iran sebagaimana tercantum dalam proposal 14 poin kami,” tulisnya di media sosial. “Angkatan bersenjata kami siap memberikan pelajaran bagi segala bentuk agresi.”

Menurut CNN, sejumlah penasihat Trump kini lebih serius mempertimbangkan opsi kelanjutan operasi tempur besar-besaran dibandingkan beberapa pekan terakhir.

Selat Hormuz dan Krisis Energi Global

Dampak kebuntuan ini telah memukul pasar energi global. CEO Saudi Aramco Amin Nasser memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz tidak segera dibuka, normalisasi pasokan minyak baru bisa terjadi pada 2027.

Pos terkait