Gen Z Kesulitan Menulis dengan Tangan, Tak Bisa Menerima Pelajaran Mendalam

Ilustrasi keterampilan menulis tangan . ((Foto: Pexels.com).
Studi terbaru dari Universitetet i Stavanger (UiS) Norwegia mengungkapkan fakta adanya penurunan keterampilan menulis pada generasi Z atau gen Z—sebutan untuk kelompok orang yang lahir pada 1997 – 2012.

Studi yang diterbitkan dalam artikel di jurnal Indian Defense Review, yang terbit Januari 2025 ini, menunjukkan 40 persen gen Z kehilangan keterampilan yang telah menjadi kunci interaksi manusia selama lebih dari 5.500 tahun lamanya itu.

Penurunan keterampilan menulis pada gen Z dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital. Kemunculan aplikasi perpesanan WhatsApp, Telegram, dan media sosial lainnya mendorong gen Z untuk mengirimkan pesan singkat dengan mengetik, bukan tulis tangan.

Walhasil, dengan makin populernya aplikasi ini, keterampilan menulis tangan menjadi makin jarang digunakan di kalangan muda. Saat ini papan ketik dan layar sentuh sudah ada di mana-mana: di tugas sekolah, akademis, email kantor, hingga sekadar mengobrol santai.

Bacaan Lainnya

Dilansir dari The Independent Singapura, beberapa ahli percaya bahwa perubahan tersebut kemungkinan menyebabkan gen Z akan menjadi generasi pertama yang kesulitan menggunakan keterampilan menulis.

Sementara itu, berdasarkan studi Universitas Stavanger, penurunan keterampilan menulis menyebabkan hilangnya sentuhan pribadi yang secara inheren diperoleh dari menulis tangan. Hal itu berdampak terhadap kemampuan komunikasi mendalam.

Menulis tangan ternyata juga memerlukan keterampilan motorik halus dan fokus mental yang bisa meningkatkan retensi memori dan pemahaman dengan cara yang tidak dapat ditiru oleh pengetikan.

Menulis dengan tangan melibatkan otak secara lebih efektif dan mendukung pembelajaran yang lebih baik serta pemahaman yang mendalam.

Studi lainnya dari sebuah laporan publikasi seperti Turkiye Today mengungkapkan banyak anak muda yang merasa tugas menulis tangan membingungkan atau menyulitkan mereka.

Siswa terkadang menghasilkan coretan yang tidak terbaca karena kurangnya latihan, sehingga sulit untuk mengekspresikan ide secara efektif di atas kertas.

Profesor Nedret (Öztokat) Kiliceri dari Fakultas Sastra Istanbul University, Turkiye, mencatat, banyak mahasiswa yang menghindari penulisan bentuk panjang dan lebih memilih menggunakan kalimat pendek yang tidak memiliki struktur dan koherensi.

Peran pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan perlu memperhatikan perubahan ini agar dapat memadukan kemajuan teknologi dengan keterampilan menulis tangan ke dalam sistem pendidikan.

Penurunan keterampilan menulis juga dikhawatirkan bisa mengubah kemampuan berkomunikasi yang penuh perhatian dan personal.

Fakta ini membutuhkan perhatian serius dari pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan. Sistem pendidikan perlu memadukan penggunaan teknologi dengan pembelajaran keterampilan menulis tangan.

Mendorong siswa untuk lebih sering menulis manual dapat membantu mempertahankan manfaat penting yang dimiliki keterampilan ini.

Penurunan keterampilan menulis tangan pada generasi Z bukanlah masalah yang bisa diabaikan. Meskipun teknologi menawarkan berbagai kemudahan, penting untuk tetap mempertahankan keterampilan dasar seperti menulis tangan.

Dengan upaya kolaboratif dari berbagai pihak, kita dapat menciptakan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi modern dan pelestarian keterampilan tradisional ini. ***

 

Pos terkait