Ejaan “Sukarno” adalah Penegasan Kemerdekaan dan Kedaulatan Berbahasa

“Nama Bung Karno oleh wartawan kembali ditulis Soekarno. Sebagai warga Indonesia Bung Karno mengamanatkan untuk menganut Sumpah Pemuda butir ketiga, menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia,” katanya.

Para penulis asing yang menulis biografi Sukarno rata-rata menulis nama Sukarno dengan mengikuti ejaan lama. Salah satunya adalah Lambert Giebels. Penulis sejarah dari Belanda itu memberi judul bukunya: Soekarno: Nederlandsch onderdaan Een biografie 1901-1950 (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Grasindo menjadi Soekarno: Biografi 1901-1950).

Bisa jadi penulis terkenal satu-satunya yang menuliskan nama Sukarno tetap “Sukarno” adalah Cindy Adams. Kendati buku itu kali pertama diterbitkan dalam bahasa Inggris pada 1965—masa di mana pengaruh ejaan lama masih dominan—namun Cindy Adams tidak ikut larut dalam penyebutan nama Sukarno menjadi Soekarno.

Bacaan Lainnya

Bung Karno sendiri lebih menyukai orang menulis namanya dengan “Sukarno”. Dia mengacu kepada sejarah penamaan dirinya, yang berasal dari dua kata: “Su” yang artinya “paling baik” dan “Karno”, yang berasal dari nama seorang kstaria pahlawan dalam dunia pewayangan. “Sukarno” berarti pahlawan yang paling baik.

“Karena itulah maka Sukarno menjadi namaku yang sebenarnya dan satu-satunya,” ungkap Sukarno dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Maka dari itulah, untuk menghormati Bung Besar dan semangat kemerdekaan—termasuk kemerdekaan berbahasa yang digelorakannya—semua artikel Samudra Fakta tentang dia menggunakan ejaan “Sukarno”.

Tanda Tangan Bertuliskan Soekarno

Lantas mengapa, Bung Karno masih membubuhkan tanda tangan pribadi dengan tulisan kata Soekarno?

Itu karena kebiasaan saat sekolah dulu, yang mewajibkan bunyi huruf “u” ditulis dengan huruf “oe”, sebagaimana ejaan Belanda. Karena ejaan itu berbau Belanda, setelah Indonesia merdeka Sukarno memerintahkan supaya segala ejaan “oe” kembali kepada “u”—termasuk penulisan namanya sendiri, dari “Soekarno” menjadi “Sukarno”.

“Akan tetapi, tidak mudah untuk mengubah tandatangan setelah berumur 50 tahun. Jadi, kalau aku sendiri menulis tandatanganku, aku masih menulis ‘S-O-E’,” jelas Bung Karno.*

Pos terkait