Budidaya Ikan Nila Salin: Potensi Ekspor Indonesia yang Menggiurkan

Waktu panen ikan nila salin lebih cepat dari ikan nila air tawar. Umumnya ikan nila dipanen 4-6 bulan, sedangkan nila salin memiliki waktu panen sekitar 3 bulan. Foto:Tangkapan Layar Trubus.id

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menegaskan bahwa ikan nila salin memiliki potensi ekonomi yang tinggi, baik di pasar domestik maupun global. Dengan nilai pasar ikan nila dunia yang diproyeksikan mencapai US$14,46 miliar pada tahun 2024, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas pangsa pasar dan meningkatkan penerimaan devisa negara.

Dari sisi teknis produksi, budidaya nila salin mengedepankan penggunaan teknologi modern, seperti mesin pakan otomatis, sistem kincir, dan alat pengukur kualitas air berbasis IOT dan tenaga surya. Tambak juga telah dilengkapi dengan instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) sehingga ramah lingkungan.

Tidak hanya itu, kehadiran BINS juga diharapkan dapat menjadi solusi bagi revitalisasi tambak udang yang sudah tidak beroperasi optimal. Dengan produktivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan tambak udang tradisional, budi daya nila salin diharapkan dapat menjadi alternatif yang lebih menguntungkan bagi petani tambak di Indonesia.

Bacaan Lainnya

Dengan segala potensi dan komitmen yang dimiliki, budidaya ikan nila salin semakin menempatkan Indonesia sebagai pemain utama dalam industri perikanan global. Dengan pengembangan yang berkelanjutan dan pemanfaatan teknologi modern, Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga menjadi pemimpin dalam pasar ekspor global.

Pos terkait