Dalam praktiknya, roti dan makanan lain yang diberikan kepada siswa akan diproduksi langsung oleh ibu-ibu murid. “Roti itu nanti akan dibuat oleh ibunya, dan rotinya akan dimakan oleh anak-anaknya,” katanya.
Meski begitu, kebijakan tetap menyesuaikan kondisi daerah. Untuk bahan tertentu seperti susu, penggunaan produk pabrikan masih diperbolehkan sementara jika produksi lokal tidak tersedia.
“Kecuali ada susu yang di mana di dapur itu memang tidak ada peternakan susu, maka terpaksa untuk sementara kami bolehkan untuk menggunakan susu kemasan,” ujarnya.
Kasus keracunan MBG tercatat menimpa lebih dari 5.000 anak dalam beberapa pekan terakhir. Hasil penyelidikan per 26 September 2025 menemukan 45 dapur MBG tidak menjalankan standar prosedur operasional (SOP). Dari jumlah itu, 40 dapur langsung ditutup tanpa batas waktu.
“Sampai sore hari ini (26/9), dari 45 dapur itu, 40 dapur kami nyatakan ditutup untuk batas waktu yang tidak ditentukan sampai semua penyelidikan selesai,” ungkap Nanik.
Proses pemeriksaan dilakukan tim independen BGN bersama aparat Polri dan Badan Intelijen Negara (BIN).***





