Bank-bank nasional merevisi target bisnis 2025. Fokus digeser, proyeksi diturunkan, sebagian disesuaikan naik. Langkah ini mencerminkan respons langsung terhadap pelemahan ekonomi.
__________
Bank-bank di Indonesia mulai melakukan penyesuaian strategi bisnis menyusul perlambatan ekonomi sepanjang semester pertama 2025. Revisi target Rencana Bisnis Bank (RBB) menjadi langkah adaptif utama yang diambil, baik dengan menurunkan proyeksi maupun menaikkan sasaran di segmen tertentu.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sebagian besar bank menurunkan target penyaluran kredit dan kinerja keuangan. Namun, tidak sedikit pula yang justru meningkatkan target, bergantung pada kekuatan sektor masing-masing.
“Revisi ini masih dinilai dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan,” kata Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK dalam konferensi pers bulanan, Selasa, 8 Juli 2025.
Perubahan strategi ini mencakup penyesuaian terhadap suku bunga acuan, proyeksi likuiditas, permintaan kredit yang melandai, serta evaluasi kondisi internal bank. Fokus diarahkan pada sektor-sektor yang masih menunjukkan potensi pertumbuhan dan risiko yang dapat dikendalikan.
Langkah korektif ini dipicu oleh dinamika makroekonomi yang menekan kinerja perbankan sejak awal tahun. Meski profitabilitas dan penyaluran kredit hingga Juni masih dalam rentang target regulator, laju pertumbuhan terus melemah.
Pada Januari–Februari 2025, pertumbuhan kredit masih di atas 10 persen year-on-year (yoy), sesuai dengan kisaran target OJK sebesar 9–11 persen. Namun sejak Maret, pertumbuhan mulai menurun ke 9,16 persen, kemudian 8,88 persen pada April, dan 8,43 persen di Mei—semuanya di bawah ambang bawah proyeksi regulator.
Di tengah penurunan ini, kredit investasi mencatat performa terbaik dengan pertumbuhan 13,74 persen yoy. Kredit konsumsi menyusul di angka 8,82 persen, sedangkan kredit modal kerja tertinggal dengan hanya 4,94 persen.
Dari sisi debitur, kredit korporasi tumbuh cukup kuat di 11,92 persen, tapi kredit untuk UMKM masih lesu dengan pertumbuhan hanya 2,17 persen. Bank tampaknya masih berhati-hati menyalurkan kredit ke sektor ini, seiring dengan fokus pemulihan kualitas kredit UMKM.





