Artefak Nusantara Jarahan Belanda: Diminta Sejak Zaman Sukarno, Dikembalikan dengan Cara Dicicil

Ketidaksukaan Belanda terhadap Sukarno juga terbukti tidak ada namanya jalan Sukarno di Belanda. Joss Wibisono, menuliskan artikel bertajuk Mengapa Tidak Ada Djalan Sukarno di Belanda?:

Tentu saja selain nama-nama pahlawan lain seperi, Hatta, Sjahrir, dan nama-nama tokoh Nusantara lain, tetapi bisa dipastikan satu nama Indonesia tidak akan dipakai sebagai nama jalan di negeri bekas penjajah ini. Sukarnostraat pasti tidak akan ada dan tampaknya juga tidak akan pernah ada. Bagaimana bisa demikian? Bukankah Sukarno bersama Hatta adalah para proklamator? Mosok sudah punja Hattastraat, Belanda ini tidak mau punya Sukarnostraat? Aneh, bukan?

Bacaan Lainnya

Tapi Sukarno? Mana pernah dia berunding dengan Belanda penjajah? Bukan lantaran tidak mau, Bung Karno bahkan ingin sekali datang ke Belanda. Tapi rupanya pihak Belandalah yang tidak mau berurusan dengan dia.

Mengapakah gerangan? Masalahnya Sukarno masih tetap dianggap musuh bebuyutan oleh orang Belanda. Dia dicibir sebagai kolaborator Dai Nippon. Intinya Sukarno dianggap merampas Hindia dari mereka dan menjadikannya Indonesia merdeka.

Ketika Jepang kalah perang, banyak orang Belanda berharap Hindia kembali ke pangkuan mereka. Tetapi ternyata mimpi indah itu tak pernah terwujud. Banyak telunjuk orang Belanda menuding Bung Karno sebagai biang keladinya. Sudah bekerjasama dengan Jepang fasis, dia masih juga memproklamasikan Indonesia merdeka, merebutnya dari tangan Belanda.

Sikap orang Belanda terhadap Sukarno bisa pula dilihat dari syair lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak di Belanda pada masa itu: “Wat doen we met Sukarno als hij komt… Wat doen we met Sukarno als hij komt… we maken er kachelhoutjes van! En wat doen we met Sukarno als het kan, en wat doen we met Sukarno als het kan, we hakken hem in mootjes, we hakken hem in mootjes, we hakken hem in mootjes in de pan…(Apa yang akan kita lakukan kalau Sukarno datang… Apa yang akan kita lakukan kalau Sukarno datang… kita akan bikin dia jadi kayu bakar! Dan apa yang kita akan lakukan pada Sukarno kalau bisa… dan apa yang bisa kita lakukan pada Sukarno kalau bisa… kita akan iris-iris dia menjadi potongan kecil di dalam panci…)”

Meskipun Belanda begitu membenci Sukarno, sebaliknya, Bung Karno tidak pernah menyimpan kebencian sedalam itu kepada orang-orang Belanda.  Perasaan itu terlihat dari surat bertitimangsa 31 Desember 1948 yang Sukarno tulis kepada Mayor Geelkerken, serdadu Belanda, serdadu Belanda penjaganya selama 12 hari pengasingan di Berastagi, Tanah Karo, Sumatera Utara saat Agresi Kedua Belanda.

“Kolega Anda dari Medan bertanya kepada saya: “Apakah Anda membenci orang Belanda? “Tidak” kata Sukarno dengan tulus. “Saya tidak membenci orang Belanda. Yang saya benci hanyalah hubungan kolonial dan imperialisme. Lantas kenapa pula saya harus membenci orang Belanda padahal 95% orang Belanda juga korban dari kolonialisme, sama dengan rakyat Indonesia yang sekarang yang sedang berjuang mencari kemerdekaan.”

(Wijdan)

Pos terkait