Jika mayoritas santri di pesantren dituntut untuk mendalami ilmu agama, hafalan Al-Quran, dan Nadzom Alfiyah, santri di Pesantren Kreatif Baitul Kilmah justru lebih dituntut untuk terjun langsung ke dalam jagat literasi. Di hari-hari selain Ramadhan, di setiap pekan Baitul Kilmah memiliki beberapa agenda rutin.
Pada malam Sabtu, misalnya, para santri mengadakan diskusi karya. Di malam Senin menggelar diskusi filsafat dan terjemahan. Dan pada malam Jumat, diadakan pengajian Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athoillah, mujahadah, dan doa bersama.

Mengutip kata Gus Dur, “Tirakat santri yang paling utama adalah membaca, ibadah santri yang paling membekas adalah menulis.” Di Baitul Kilmah para santri diberdayakan untuk membiasakan baca tulis. Tak ada hari tanpa membaca, tak ada waktu tanpa menulis.
Santri Baitul Kilmah memang sengaja diberdayakan untuk cinta terhadap kegiatan baca tulis. Bukan tanpa alasan mengapa pesantren ini menggunakan nama bilik, rumah kata (baitul kilmah) sebagain main branding.
Setiap Perayaan Hari Santri Nasional, biasanya Baitul Kilmah mengadakan peluncuran buku-buku karya para santri, hasil kerja mereka selama setahun. Dari novel hingga ensiklopedia, dari puisi ke kumpulan cerpen.
Beberapa karya ada yang menjadi best seller di kalangan umum, misalnya Enskiklopedia Ulama Sufi 4 jilid, Terjemahan Tafsir Al-Jilani 12 jilid, dan masih banyak lagi.◼︎




