Museum Bank Indonesia mencatat sejarah panjang alat transaksi di Jawa Timur, mulai dari koin emas Krisnala era Jenggala, Gobog Majapahit, hingga Ropij Jawa yang dicetak di Surabaya.
Catatan kurasi Museum Bank Indonesia mengungkap wilayah Jawa Timur telah mengenal aneka instrumen pembayaran bernilai tinggi jauh sebelum rupiah berdaulat. Jejak perniagaan terekam kuat sejak era kerajaan kuno hingga masa penjajahan.
Di antara koleksi tertua terdapat uang Krisnala atau uang Ma berbahan emas dan perak asal Kerajaan Jenggala pada abad ke-12, serta koin tembaga Gobog peninggalan Majapahit yang beredar pada abad ke-14 hingga ke-16.
Pencetakan Ropij Jawa di Surabaya
Menyoal peredaran uang era penjajahan, Surabaya memegang peran strategis saat Hindia Timur dikuasai Inggris. Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles memerintahkan pencetakan mata uang Ropij Jawa di kota tersebut pada 1813.
Ropij Jawa yang terbuat dari emas, perak, dan tembaga diterbitkan guna menggantikan Real Spanyol setelah pemerintah kolonial menarik jutaan keping Rijksdaalder dari pasar perniagaan Nusantara.
Selain itu, peredaran uang di Jawa Timur terus berganti seiring transisi kekuasaan, mulai dari terbitnya Gulden Hindia Belanda pada 1817 hingga hak sirkulasi De Javasche Bank pada 1828.
Sebelumnya, pendudukan militer Jepang sempat melikuidasi De Javasche Bank dan mengedarkan mata uang invasi melalui Nanpo Kaihatsu Ginko sebelum akhirnya Indonesia menerbitkan Oeang Republik Indonesia pada 1946.
“Jejak tersebut menjadi bagian perjalanan panjang sistem pembayaran yang mengiringi dinamika ekonomi masyarakat,” demikian catatan sejarah Museum Bank Indonesia. ***





