BMKG Tegaskan Hujan di Surabaya Belum Masuk Musim Penghujan

Surabaya Hujan
Ilustrasi hujan. (Pixabay)

BMKG Juanda menegaskan hujan di Surabaya bukan pertanda awal musim penghujan maupun pancaroba, melainkan akibat gangguan gelombang atmosfer saat kemarau.

Hujan deras yang mengguyur Kota Surabaya selama dua hari terakhir belum menandai datangnya musim penghujan maupun masa peralihan cuaca. Wilayah metropolitan Jawa Timur ini dipastikan masih berada dalam fase musim kemarau.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, Bhilda Maulida, menjelaskan penetapan musim tidak didasarkan pada curah hujan harian semata, melainkan mengacu pada pengukuran periode dasarian atau rentang sepuluh hari.

Kriteria Dasarian dan Angin Timuran

Berdasarkan ketentuan BMKG, awal musim hujan ditetapkan apabila curah hujan mencapai minimal 50 milimeter dalam satu dasarian dan berlanjut konsisten pada periode dasarian berikutnya.

Bacaan Lainnya

“Atau sedikitnya 150 milimeter selama tiga dasarian berturut-turut, dengan syarat dasarian pertama mencapai minimal 50 milimeter,” kata Bhilda menerangkan ketentuan baku klimatologi, Rabu, 28 Oktober 2026.

Akumulasi hujan di Surabaya pada 26–27 Oktober kemarin tercatat hanya sebesar 26,2 milimeter. Angka tersebut masih jauh di bawah ambang batas penetapan musim basah resmi pemerintah.

Selain itu, sirkulasi angin timuran yang menjadi ciri khas kemarau belum memperlihatkan tanda pelemahan. Hujan mendadak ini murni dipicu oleh anomali gelombang atmosfer yang melintasi langit Jawa Timur.

“Masih kemarau, namun terdapat gangguan atmosfer. Belum bisa dikatakan pancaroba karena angin timuran belum melemah,” ujar Bhilda menegaskan status iklim terkini.

Masyarakat diimbau tetap mewaspadai potensi hujan lokal singkat akibat labilitas atmosfer, seraya terus memantau pembaruan informasi radar cuaca resmi dari BMKG. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan