Iran International menuding Garda Revolusi mengincar Tanjung Priok. Dian Wirengjurit menghitung ulang: armada Iran, katanya, tak pernah jauh dari Teluk Persia.
Mantan Duta Besar RI untuk Iran periode 2012–2016, Dian Wirengjurit, menilai tudingan bahwa Garda Revolusi Iran (IRGC) mengincar Selat Malaka dan Tanjung Priok tidak berpijak pada kemampuan militer Iran.
Dian menyampaikan penilaian itu dalam siniar Madilog di kanal Forum Keadilan TV, Sabtu, 3 Oktober 2026. Perbincangan itu dipandu jurnalis senior Darmawan Sepriyossa.
Tudingan yang dibedah Dian bersumber dari laporan Iran International, media berbahasa Persia yang berbasis di London, pada 31 Agustus 2026. Laporan itu bersandar pada sumber yang identitasnya tidak dibuka.
Menurut laporan itu, Unit 4000, divisi operasi khusus di bawah Organisasi Intelijen IRGC, menyusun rencana serangan di Selat Malaka dan Selat Bangka. Sasaran lainnya Tanjung Priok serta pelabuhan Ningbo-Zhoushan dan Shanghai di Tiongkok.
Laporan yang sama menyebut tiga warga negara Indonesia (WNI) diduga telah direkrut unit tersebut. Tuduhan sebesar itu membuat Dian memilih membedahnya dari hal paling dasar: doktrin dan jangkauan armada.
Armada yang Tak Jauh dari Rumah
Menurut Dian, Iran kini sibuk bertahan sebagai negara yang dikucilkan sanksi Barat. Doktrin pertahanannya, kata dia, bersifat defensif.
“Tidak satu butir peluru pun dilontarkan ke tetangganya,” kata Dian.
Ia menyebut kekuatan laut Iran hanya menjaga wilayah teritorial di Teluk Persia dan Laut Kaspia. Gagasan kapal perang Iran menjangkau Batam atau Priok pun dinilainya terlalu jauh.
Selama ini, kata Dian, kapal-kapal Iran berlayar menuju India dan Tiongkok, pembeli utama minyaknya. Di laut lepas, Amerika Serikat (AS) sudah menunggu dengan kapal induk.
Sebelumnya, perang pecah pada 28 Februari 2026 setelah AS dan Israel menyerang Iran. Gencatan senjata 60 hari antara Washington dan Teheran lalu runtuh pada 8 Juli.
Kecemasan pasar pun merembet ke Selat Malaka. Menurut data pemerintah AS yang dikutip CNBC, jalur itu mengalirkan 29 persen arus minyak laut dunia pada semester pertama 2025.
Bayang-bayang Perang Informasi
Selain itu, Dian menyebut Iran International sebagai media oposisi yang, menurut dia, dibiayai AS dan Arab Saudi. Ia mengingatkan klaim senjata pemusnah massal Irak yang tak pernah terbukti.
Iran International sendiri membantah tudingan semacam itu. Media tersebut menyatakan dimiliki investor swasta dan tidak terikat pada pemerintah mana pun.
Bantahan atas isi laporan datang dari Kedutaan Besar Iran di Jakarta. Lewat pernyataan resmi yang dimuat Sindonews pada 25 September 2026, Kedubes menyebut laporan itu tak berdasar dan mustahil diverifikasi.
Ahlulbait Indonesia (ABI) menempuh jalur serupa lewat hak jawab pada 14 September 2026. ABI menolak pengaitan ketua umumnya, Zahir Yahya, dan anggota Dewan Syura Abdullah Assegaff dengan Unit 4000.
Menurut ABI, laporan itu tidak memuat dokumen ataupun transaksi yang bisa diperiksa secara independen. Hingga berita ini ditulis, Kementerian Luar Negeri, Badan Intelijen Negara (BIN), dan TNI belum memberikan tanggapan resmi.
Ihwal kecurigaan semacam ini, Dian menilai polanya bukan barang baru. Ia mengisahkan penangkapan seorang warga Iran di Bali menjelang Indonesia memegang presidensi G20.
Saat itu, kata Dian, ia menulis bahwa orang tersebut hanyalah turis yang menunggak biaya kos. Tak lama, seorang petinggi meneleponnya dan menyebut orang itu intelijen bayaran Israel.
Sang petinggi, menurut Dian, yakin orang itu hendak menggagalkan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20.
“Sakit jiwa ini, informasi seperti ini diterima bulat-bulat,” kata Dian.
Dari situ ia menilai elite Indonesia kurang memahami cara kerja intelijen. Agen sejati, menurut Dian, ditanam bertahun-tahun dan menguasai bahasa setempat.
Ia mencontohkan Eli Cohen, agen Israel yang menyusup ke lingkar elite Suriah pada 1960-an. Ada pula Takeo Yoshikawa, mata-mata Jepang yang mengintai Pearl Harbor menjelang serangan 1941.
Selain itu, Dian menyoroti posisi Indonesia sendiri. Ia menyebut Pertamina pernah membeli elpiji dari Iran, tetapi pengiriman terhenti setelah AS menegur. India dan Singapura, katanya, tetap menemukan celah.
Kerawanan di dalam negeri, menurut dia, membuat Indonesia mudah disasar propaganda. Isu ancaman dari luar pun bisa mengalihkan perhatian dari persoalan domestik.
Darmawan menutup perbincangan dengan pengingat: tidak setiap tuduhan terhadap Iran adalah propaganda, dan tidak setiap kabar tentang Iran adalah kebenaran.
“Jangan mudah takut, jangan mudah percaya, dan jangan pernah berhenti berpikir,” kata Darmawan.***





