Prabowo Mengakui Serangan Siber terhadap Indonesia Sudah Dimulai

Presiden Prabowo Subianto dalam acara HUT ke-81 TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (5/10). (Instagram Presiden RI)

Bukan lagi skenario. Di HUT Ke-81 TNI, Prabowo menyebut serangan siber dan hoaks sudah menyasar Indonesia, saat BSSN mencatat 182 potensi serangan tiap detik.

Presiden Prabowo Subianto tidak lagi menempatkan serangan siber sebagai ancaman masa depan. Di hadapan ribuan prajurit pada HUT Ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI), ia menyebut Indonesia sudah mulai diserang lewat ruang digital.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam amanat upacara di Lapangan Prima, Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin, 5 Oktober 2026. Serangan yang ia maksud datang lewat siber, disinformasi, dan berita bohong.

“Kita bisa diserang dan sudah mulai diserang melalui siber, melalui disinformasi, melalui berita-berita bohong yang selalu ingin Indonesia dipecah belah, yang selalu ingin Indonesia gaduh,” kata Prabowo.

Bacaan Lainnya

Ia membingkai peringatan itu dengan gambaran dunia yang penuh gejolak dan ketidakpastian. Menurut dia, tak seorang pun mengetahui kapan ancaman terhadap Indonesia akan menjadi nyata.

Dari situ, Prabowo menarik kesimpulan tentang watak perang hari ini. Perang, katanya, belum tentu berwujud fisik.

“Karena itu TNI harus terus menyesuaikan diri. Belajar, belajar, belajar, dan berlatih, berlatih, berlatih,” ujarnya.

Angka di Balik Peringatan

Peringatan Prabowo berdiri di atas tren yang sudah lama dipantau Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Sepanjang 2025, lembaga itu mencatat sekitar 5,16 miliar anomali trafik internet di Indonesia.

Jika dirata-ratakan, angka itu setara dengan 182 potensi serangan siber setiap detik. Data tersebut dipaparkan Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN Slamet Aji Pamungkas di Semarang, 6 Agustus 2026.

Slamet memberi catatan penting. Anomali trafik belum tentu serangan siber, tetapi setiap anomali berpotensi berkembang menjadi serangan.

Tren itu belum mereda tahun ini. BSSN mencatat 1,52 miliar serangan siber hanya dalam periode 1 Januari hingga 15 April 2026, sebagian besar berupa perangkat lunak jahat.

TNI Diminta Menguasai Teknologi

Menghadapi medan baru itu, Prabowo meminta TNI tumbuh menjadi kekuatan yang profesional, responsif, modern, inovatif, dan adaptif. Ia juga menuntut prajurit menguasai teknologi.

Masa damai, menurut Prabowo, justru merupakan waktu untuk bersiap menghadapi ancaman paling buruk. Ia tidak ingin kesiapsiagaan TNI mengendur hanya karena tidak ada perang terbuka.

Dari sisi kelembagaan, TNI saat ini mengandalkan Satuan Siber (Satsiber) yang tersebar di tiap matra. Wacana membentuk Angkatan Siber sebagai matra keempat sempat mengemuka pada 2024.

Namun, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin pernah menyatakan TNI tidak perlu membentuk matra tersebut. Alasannya, satuan yang beroperasi di bidang siber sudah ada di tubuh TNI.

BSSN sendiri terus mendorong agar pertahanan siber dibangun sejak awal, bukan setelah insiden terjadi. Pesan itu disampaikan Slamet di hadapan pelaku perbankan.

“Jangan muncul kepedulian setelah terjadi serangan,” kata Slamet.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan