Abdul Sobur kembali dipercaya menjadi Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI). Sobur dipilih secara aklamasi oleh sembilan anggota formatur hasil Musyawarah Nasional (Munas) IV HIMKI.
Munas IV HIMKI digelar di The Trans Resort Bali, Denpasar, 14-16 September 2026. Sekitar 120 peserta mengikuti forum tersebut. Peserta Munas berasal dari Dewan Pengurus Pusat (DPP), Dewan Pengurus Daerah (DPD), anggota, senior, dan pemangku kepentingan HIMKI dari berbagai daerah.
Selain memilih ketua umum, Munas IV juga mengesahkan amandemen Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Forum tersebut juga menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Organisasi (GBHO). HIMKI sekaligus meluncurkan Grand Strategy Plan (GSP) Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia.
Abdul Sobur Kembali Dipilih
Pemilihan ketua umum diawali dengan pemilihan sembilan anggota formatur. Proses tersebut berlangsung secara demokratis. Sembilan formatur kemudian bermusyawarah menentukan ketua umum. Hasilnya, Abdul Sobur kembali dipilih secara aklamasi.
Sebelumnya, Sobur menyatakan tidak bersedia dicalonkan sebagai anggota formatur. Ia ingin memberikan ruang lebih besar bagi kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan HIMKI. Namun, sembilan formatur tetap memberikan amanah kepada Sobur untuk kembali memimpin organisasi. Sobur pun menerima keputusan tersebut.
“Sejak awal saya sungguh ingin memberikan ruang yang luas bagi kaderisasi. Namun, ketika sembilan formatur yang dipilih secara sah oleh Munas secara bulat kembali memberikan amanah ini, saya memandangnya bukan sebagai kemenangan pribadi, melainkan sebagai panggilan tanggung jawab yang tidak patut saya abaikan,” ujar Sobur.
Sobur mengatakan kepemimpinan HIMKI tidak boleh bertumpu pada satu orang. Menurut dia, organisasi harus dijalankan secara kolektif dan profesional. Transparansi serta kinerja juga menjadi bagian penting dalam kepemimpinan. “Amanah ini bukan milik Abdul Sobur, tetapi milik seluruh keluarga besar HIMKI,” katanya.
Sobur menyebut formatur, DPD, pengurus, badan eksekutif, anggota, dan generasi muda harus terlibat dalam kepemimpinan HIMKI.
Munas IV Ubah AD/ART
Munas IV HIMKI juga mengesahkan amandemen AD/ART. Perubahan tersebut mencakup tata kelola dan pembagian kewenangan organisasi. Sistem pertanggungjawaban juga diperkuat. Begitu pula mekanisme kaderisasi dan profesionalitas badan eksekutif.
Perubahan tersebut diharapkan menjaga kesinambungan program HIMKI dari tingkat pusat hingga daerah. Selain AD/ART, Munas menetapkan GBHO sebagai pedoman organisasi untuk periode mendatang. Ada sejumlah agenda yang menjadi prioritas. Di antaranya konsolidasi organisasi dan penguatan DPD.
HIMKI juga akan meningkatkan pelayanan kepada anggota. Pengembangan pasar ekspor dan domestik menjadi agenda lainnya. Organisasi juga akan memperkuat advokasi regulasi. Desain, inovasi, teknologi, dan keberlanjutan masuk dalam prioritas.
Pengembangan sumber daya manusia serta kerja sama nasional dan internasional juga menjadi perhatian.
GSP Jadi Strategi Industri Mebel
Munas IV HIMKI turut meluncurkan GSP Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia. GSP disusun bersama pemerintah dan sejumlah pemangku kepentingan. Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Ekonomi Kreatif, dan Pemerintah Provinsi Bali terlibat dalam penyusunannya.
Sejumlah kementerian, lembaga, asosiasi, dan pelaku industri juga ikut mendukung. GSP diarahkan untuk memperkuat pasar domestik dan ekspor. Pengembangan desain dan inovasi juga menjadi bagian dari strategi tersebut.
Selain itu, GSP memuat agenda pengembangan sumber daya manusia dan perluasan akses bahan baku berkelanjutan. HIMKI ingin memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai industri mebel dan kerajinan global.
Indonesia tidak ingin hanya menjadi pemasok bahan baku atau produk manufaktur. HIMKI mendorong Indonesia menjadi pusat desain, produksi, dan perdagangan mebel serta kerajinan bernilai tambah tinggi.
“Target besar industri tidak mungkin dicapai oleh HIMKI sendiri. Kita membutuhkan kolaborasi nyata antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan seluruh ekosistem industri,” kata Sobur.
Sobur meminta GSP tidak berhenti sebagai dokumen. “GSP harus menjadi dokumen hidup yang diterjemahkan ke dalam program, target, penanggung jawab, serta ukuran keberhasilan yang jelas,” ujarnya.
HIMKI Dorong Industri Mebel Naik Kelas
HIMKI menargetkan industri mebel dan kerajinan menjadi salah satu kekuatan ekonomi Indonesia. Sektor ini berkontribusi terhadap devisa dan lapangan kerja. Produk mebel dan kerajinan juga membawa identitas budaya serta kreativitas Indonesia ke pasar global.
Karena itu, HIMKI mendorong kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri. Desainer, perajin, lembaga pembiayaan, perguruan tinggi, penyelenggara pameran, dan mitra internasional juga diharapkan terlibat. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan daya saing industri.
Dengan hasil Munas IV, HIMKI memasuki periode kepengurusan baru. Organisasi akan fokus pada penguatan internal dan peningkatan pelayanan kepada anggota. HIMKI juga mendorong peningkatan kontribusi industri mebel dan kerajinan terhadap perekonomian nasional. Produk Indonesia diharapkan semakin mampu bersaing di pasar global.***


