Wilayah berstatus Awas bertambah dari 14 menjadi 23 kabupaten pada awal September. Curah hujan diperkirakan kurang dari 20 milimeter dalam sepuluh hari.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menetapkan 23 kabupaten di Jawa Tengah berstatus Awas kekeringan meteorologis pada 1–10 September 2026.
Jumlah itu bertambah dari 14 daerah pada periode 21–31 Agustus. Peringatan tertinggi tersebut menunjukkan hujan tidak turun sedikitnya selama 61 hari berturut-turut.
“Seluruh status tersebut diikuti prediksi curah hujan kurang dari 20 milimeter per dasarian dengan peluang lebih dari 70 persen,” kata Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto, Kamis, 3 September 2026.
Dasarian merupakan periode sepuluh hari. Dengan prakiraan tersebut, sebagian besar wilayah terdampak berpeluang hanya menerima hujan dalam jumlah sangat kecil hingga 10 September.
Wilayah berstatus Awas meliputi Cilacap, Brebes, Tegal, Banyumas, Purbalingga, Pekalongan, Banjarnegara, Kebumen, Wonosobo, Magelang, Purworejo, Klaten, dan Sukoharjo.
Status yang sama berlaku di Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Blora, Rembang, Pati, Jepara, Kudus, dan Demak.
Hampir Seluruh Jawa Tengah Terjangkau Peringatan
Empat kota dan enam kabupaten berada satu tingkat di bawahnya atau berstatus Siaga. Daerah tersebut ialah Kota Tegal, Semarang, Salatiga, dan Surakarta serta Kabupaten Pemalang, Batang, Kendal, Semarang, Temanggung, dan Boyolali.
Sementara itu, Kota Pekalongan masuk status Waspada. Dengan demikian, 34 dari 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah berada dalam salah satu tingkat peringatan kekeringan meteorologis.
Goeroeh mengatakan status Siaga menunjukkan hujan tidak turun sedikitnya selama 31 hari. Dalam kondisi ini, sumber air permukaan seperti sungai, embung, dan sumur dangkal berpotensi menyusut.
“Pemerintah daerah dan instansi terkait perlu segera mengantisipasi potensi krisis air bersih, antara lain melalui penjadwalan distribusi air menggunakan truk tangki secara rutin,” ujarnya.
Cakupan status Awas meningkat dibandingkan dasarian terakhir Agustus. Saat itu, peringatan tertinggi berlaku di 14 daerah, antara lain Demak, Kudus, Grobogan, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Sragen.
Jutaan Liter Air Sudah Disalurkan
Dampak kemarau telah muncul sejak Juli. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Tengah mencatat 25 kabupaten dan kota terdampak hingga 24 Juli, mencakup 83 kecamatan dan 148 desa.
Pemerintah bersama sejumlah lembaga telah mendistribusikan sekitar 6,8 juta liter air bersih kepada 61.139 keluarga atau 184.643 jiwa. Klaten, Pemalang, dan Banjarnegara menerima distribusi terbanyak.
Pada akhir Juli, sekitar 40 juta liter masih tersedia dari total alokasi 44,9 juta liter melalui anggaran pemerintah kabupaten dan kota.
Kemarau juga meningkatkan ancaman kebakaran. BPBD mencatat 275 kejadian pada 5 Juni–19 Juli, terdiri atas 56 kebakaran hutan dan lahan serta 219 kebakaran gedung dan rumah.
Data Awas yang dimuat laman resmi Stasiun Klimatologi Jawa Tengah berbeda dengan publikasi ANTARA pada Kamis pagi. ANTARA menyebut 25 kabupaten dan kota, tetapi daftar dalam beritanya hanya memuat 24 daerah, termasuk Kota Magelang.
Laman resmi BMKG yang menjadi rujukan naskah ini mencantumkan 23 kabupaten dan tidak memasukkan Kota Magelang. Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan mengenai perbedaan angka tersebut.
“Masyarakat juga diminta memprioritaskan penggunaan air yang tersedia untuk kebutuhan pokok, terutama minum dan memasak, serta menghemat pemakaian untuk kebutuhan lainnya,” kata Goeroeh.***





