Bukan sekadar istilah viral, kimpul merupakan umbi lokal kaya serat yang dapat diolah menjadi tepung, camilan, hingga alternatif karbohidrat.
Fenomena lucu viral seringkali terjadi tanpa disengaja, sama seperti yang dialami pada Agustus akhir-akhir ini dalam akun TikTok bernama @black.sheep8208 yang menjadi sorotan karena penggunaan kata kimpul. Ia menggunakan kata kimpul sembari menunjukkan kesehariannya dalam memasak berbagai hidangan, seperti mashed potato, seblak, dan lainnya.
Kimpul sendiri adalah tanaman umbi-umbian lokal tradisional yang termasuk ke dalam keluarga talas-talasan (Araceae) yang menyimpan kandungan gizi yang besar.
Pakar dari Universitas Airlangga (Unair), Lailatul Muniroh S KM M Kes yang merupakan ahli gizi sekaligus dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Program Studi Gizi Unair turut memberikan tanggapannya terkait tren viral kimpul.
Melalui sudut pandang gizi, kimpul dapat digunakan sebagai alternatif sumber karbohidrat beras atau singkong.
“Sebenarnya, potensi kimpul cukup besar sebagai sumber karbo alternatif, tetapi bagi masyarakat Indonesia yang sebagian besar memiliki pemikiran ‘Kalau belum makan nasi, berarti belum makan’, sepertinya kimpul hanya lebih tepat sebagai pangan diversifikasi dan substitusi parsial, bukan pengganti beras atau nasi,” ujar Lailatul, Sabtu (22/8/2026).
Kimpul memiliki potensi gizi yang tinggi karena kandungan serat dan karakteristik pati yang bagus. Namun, dari sisi penerimaan, kepraktisan, pengolahan, dan kebiasaan makan masyarakat Indonesia masih kalah dari nasi.
Kimpul juga dapat disulap menjadi berbagai makanan melalui pengolahan kukus atau rebus, sehingga dapat langsung dimakan. Selain itu, kimpul juga dapat menjadi tepung yang dapat digunakan untuk memasak berbagai makanan.
“Kimpul bisa dijadikan tepung. Tepung inilah yang menjadi olahan paling potensial dari kimpul, karena dapat mensubstitusi terigu dan digunakan untuk berbagai macam bahan. Bahan tersebut seperti cookies, biskuit, brownies, cake, bolu, pancake, dan lainnya,” tutur Lailatul.





