ITS Luncurkan Traktor Perahu Listrik, Solusi Pertanian Lahan Gambut

Traktor Perahu Listrik
Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD langsung melakukan uji coba traktor perahu listrik didampingi Cahya Dwi Budiharjo, mahasiswa Departemen Teknik Elektro ITS. (Humas ITS)

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Science Techno Park (STP) Otomotif memperkenalkan traktor perahu listrik untuk pertanian lahan gambut. Inovasi ini diharapkan meningkatkan produktivitas lahan basah yang selama ini sulit diolah dengan mekanisasi konvensional.


Lahan gambut di Indonesia yang luas sering kali kurang produktif karena mekanisasi pertanian konvensional tidak efektif. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Science Techno Park (STP) Otomotif memperkenalkan traktor perahu listrik sebagai solusi teknologi tepat guna.

Rektor ITS Prof. Dr (HC) Ir. Bambang Pramujati, S.T., M.Sc. Eng., Ph.D. menyatakan traktor elektrik ini telah menarik perhatian Kementerian Pertanian (Kementan) RI.

“Berbeda dengan traktor pada umumnya, kendaraan taktis pertanian ini didesain menyerupai bentuk kapal agar mampu bergerak optimal di atas lahan basah tanpa risiko tenggelam,” ujarnya, Kamis (16/7/2026).

Bacaan Lainnya

Prof. Dr. Bambang Sudarmanta, S.T., M.T., pemimpin penelitian tersebut, menjelaskan penggunaan motor listrik memangkas biaya operasional signifikan dibandingkan traktor konvensional berbahan bakar fosil. Selain efisiensi biaya, traktor ini juga mendukung program kelestarian lingkungan melalui emisi karbon rendah.

Pengembangan sistem elektrifikasi ini menggabungkan prinsip flotasi, mekanisasi pertanian, dan elektrifikasi untuk meningkatkan produktivitas lahan. “Selain itu juga, sistem ini akan meminimalisir degradasi struktur tanah, serta mendukung pertanian berkelanjutan yang rendah emisi,” tutur Manajer STP Otomotif ITS.

Traktor ini dirancang khusus dengan fokus pada optimasi torsi tinggi, bukan kecepatan, sehingga memenuhi kebutuhan membajak sawah. Secara teknis, traktor ini digerakkan oleh motor listrik 10 kilowatt (kW) dan dilengkapi sistem display elektronik untuk memantau kondisi baterai, pengontrol suhu, serta tegangan baterai secara real-time.

Dalam hal operasional, traktor listrik ini dinilai jauh lebih hemat biaya dibandingkan traktor konvensional berbasis bensin atau solar. Sumber energi traktor ini memanfaatkan daya listrik yang murah dan mudah diakses di rumah warga.

“Keunggulan lainnya ialah respon torsi yang instan saat gas diaktifkan, sehingga menghasilkan tenaga penuh secara langsung untuk menggemburkan tanah,” terang pakar di bidang teknik pembakaran dan bahan bakar tersebut.

Terkait spesifikasi daya, traktor ini bekerja pada tegangan optimal sekitar 72 volt dan arus 32 Ampere, yang menghasilkan daya sekitar 10 kW dengan kapasitas baterai sebesar 140 Ampere per hour (Ah). Dengan demikian, traktor dapat digunakan selama 3 sampai 4 jam dalam kondisi penuh.

Berdasarkan hasil uji coba, traktor ini diestimasikan mampu membajak lahan seluas 1 hektare. Karakteristik operasionalnya disimulasikan pada lahan 1 hektar dengan dimensi lebar 100 meter dan panjang 100 meter. Dengan bajak berlebar 1,8 meter, traktor ini memerlukan 56 lintasan dengan total panjang lintasan 5,6 kilometer.

Meskipun memiliki potensi efisiensi tinggi dan mobilitas baik berkat ban karet, proyek ini terus melakukan pengembangan. Pada uji coba di sawah sebelumnya, tim menemui kendala panas berlebih, sehingga ditambahkan sistem pendingin sebagai komponen baru.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan