Hipertensi Diam-diam Merusak Jantung

Hipertensi
Ilustrasi hipertensi. (Pixabay)

Kematian komedian Temon akibat serangan jantung menjadi pengingat bahwa hipertensi dapat merusak jantung secara perlahan tanpa gejala yang disadari.

Komedian Simson Rarameha Ngadang atau Temon meninggal akibat serangan jantung pada Minggu, 12 Juli 2026, pukul 08.42 WIB. Pria berusia 59 tahun itu diketahui memiliki riwayat hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Putri kelima Temon, Rambu, mengatakan ayahnya tidak pernah mengeluhkan sakit sebelum meninggal. Temon disebut tetap berusaha terlihat sehat di hadapan keluarganya meski sedang tidak bugar.

“Dia enggak pernah mengeluh sakit,” kata Rambu, seperti dikutip dari Detik, Senin, 13 Juli 2026.

Bacaan Lainnya

Penyebab kematian Temon tidak serta-merta dapat disimpulkan hanya berasal dari hipertensi. Namun, tekanan darah tinggi yang tidak terkendali merupakan salah satu faktor utama penyakit jantung, serangan jantung, dan gagal jantung.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut sebagian besar penderita hipertensi tidak merasakan gejala. Pemeriksaan tekanan darah menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui kondisi tersebut sebelum menimbulkan kerusakan organ.

Jantung Dipaksa Bekerja Lebih Keras

Primaya Hospital menjelaskan hipertensi membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah melawan tekanan tinggi di pembuluh arteri. Beban yang berlangsung terus-menerus dapat mengubah struktur dan fungsi jantung.

Salah satu dampaknya ialah hipertrofi ventrikel kiri atau penebalan dinding ruang utama pemompa jantung. Otot yang menebal menjadi lebih kaku sehingga jantung kesulitan mengendur dan terisi darah secara optimal.

Tekanan darah tinggi juga mempercepat kerusakan dinding pembuluh darah dan pembentukan plak. Ketika arteri koroner menyempit atau tersumbat, pasokan darah dan oksigen ke otot jantung berkurang sehingga memicu nyeri dada maupun serangan jantung.

American Heart Association menjelaskan peningkatan beban kerja dalam waktu lama dapat membuat otot jantung membesar dan kehilangan efisiensi. Pada tahap lanjut, jantung kesulitan memompa darah sesuai kebutuhan tubuh.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan