Setelah tertunda 126 hari karena alasan keamanan, Iran bersiap menggelar pemakaman terbesar dalam sejarahnya. Tapi di balik lautan pelayat yang diproyeksikan mencapai 20 juta orang, ada pertanyaan yang lebih dalam: mampukah Republik Islam bertahan tanpa sang pemimpin?
Jumat, 28 Februari 2026, pukul 02.00 dini hari waktu Teheran. Rudal pertama menghantam kediaman resmi Ayatollah Ali Khamenei di pusat ibu kota. Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel itu bukan hanya merobohkan tembok, tapi juga mengguncang fondasi Republik Islam yang telah berdiri selama 47 tahun.
Di dalam reruntuhan, pemimpin tertinggi Iran selama 37 tahun itu gugur. Usianya 86 tahun.
Bersamanya, gugur pula empat anggota keluarganya—termasuk putranya, Dr. Mesbah-ol-Hoda Bagheri, dan menantunya, Seyyedeh Boshra Hosseini Khamenei.
Dunia bergeming. Namun Iran justru terdiam. Selama 126 hari, jenazah Khamenei tidak dikebumikan. Bukan karena ketiadaan kehormatan, melainkan karena terlalu banyak kehormatan yang harus dilindungi.
Enam Hari yang Mengubah Sejarah
Pada 13 Juni 2026, lebih dari tiga bulan setelah kematiannya, panitia pemakaman akhirnya mengumumkan jadwal resmi. Rangkaian prosesi akan berlangsung selama enam hari, melintasi lima kota, dan—menurut perkiraan otoritas—akan dihadiri oleh 15 hingga 20 juta orang.
Angka itu nyaris seperempat populasi Iran. Bandingkan dengan pemakaman Ayatollah Khomeini pada 1989 yang dihadiri sekitar 10 juta orang. Ini akan menjadi prosesi pemakaman terbesar dalam sejarah Iran modern—bahkan mungkin salah satu yang terbesar di dunia.
Rangkaian acara dimulai pada 4 Juli di Masjid Agung Imam Khomeini, Teheran. Pukul 06.00 pagi waktu setempat, pintu dibuka bagi publik. Selama dua hari penuh, rakyat Iran akan memberi penghormatan terakhir.
Pada 5 Juli, salat jenazah akan digelar. Keesokan harinya, 6 Juli, prosesi pemakaman utama akan melintasi Teheran—tapi tidak dalam satu rute tunggal. “Tidak ada satu jalan pun di Teheran yang bisa menampung jumlah pelayat yang diprediksi,” kata Brigadir Jenderal Hassan Hassanzadeh, panglima Komando Teheran IRGC yang juga ketua panitia pemakaman.
Alih-alih satu jalur, panitia merancang koridor luas yang membentang di seluruh ibu kota. Kendaraan akan dibatasi. Metro dan bus dikerahkan dalam kapasitas penuh. Di sekitar lokasi upacara, didirikan lima pusat layanan yang menyediakan air minum, makanan, layanan medis, dan fasilitas sanitasi.
Pada 7 Juli, giliran kota suci Qom. Pada 8 Juli, jenazah akan diterbangkan ke Irak—atas permintaan berulang dari para pemuka agama dan tokoh politik Irak—untuk prosesi di Najaf dan Karbala. Dan pada 9 Juli, tepat bertepatan dengan malam peringatan wafatnya Imam Sajjad, Khamenei akhirnya akan dikebumikan di Makam Imam Reza, Mashhad—kota kelahirannya.
Mengapa Butuh 126 Hari?
Penundaan selama lebih dari empat bulan bukanlah keputusan yang diambil ringan. “Pemakamannya dijadwalkan jauh lebih awal tetapi berulang kali ditunda karena alasan keamanan—sebagian karena seluruh kepemimpinan politik akan hadir,” demikian laporan Bernama.
Kalkulasi risikonya sederhana namun mengerikan: dalam satu ruangan, hampir seluruh elite politik dan militer Iran akan berkumpul. Serangan susulan—baik dari AS, Israel, atau musuh internal—bisa melumpuhkan negara dalam satu pukulan.
Namun ada faktor lain yang lebih personal. Putra Khamenei sekaligus penerusnya, Mojtaba Khamenei, dilaporkan terluka parah dalam serangan yang sama. Ia diangkat sebagai pemimpin tertinggi baru seminggu setelah kematian ayahnya, namun sejak itu tidak pernah muncul di publik. Spekulasi tentang kesehatannya dan keberadaannya terus bergulir. Sekretaris panitia pemakaman, Ali-Akbar Pourjamshidian, bahkan mengakui: “Masalah kehadiran Pemimpin Tertinggi bukanlah wewenang atau pengetahuan saya.”
Ketidakpastian tentang pemimpin baru—apakah ia akan hadir dalam pemakaman ayahnya sendiri—menjadi simbol dari ketidakpastian yang lebih besar: dapatkah Republik Islam bertahan tanpa Khamenei?
700 Tenaga Medis dan 4 Rumah Sakit Lapangan
Dengan 20 juta orang diprediksi memadati jalanan, persiapan logistiknya luar biasa. IRGC mengerahkan empat rumah sakit lapangan dengan kapasitas 60 tempat tidur masing-masing, 30 ambulans, dan 25 pusat pertolongan pertama. Lebih dari 700 tenaga medis—dokter, perawat, paramedis—akan disiagakan 24 jam. Layanan ambulans udara juga disiapkan.
Lima hari libur nasional telah diumumkan di Teheran, Qom, dan Mashhad. Kantor publik dan swasta di ibu kota akan tutup dari Sabtu hingga Senin. Pembatasan lalu lintas akan mempengaruhi sebagian besar pusat kota.
Di seluruh Teheran, spanduk-spanduk bergambar Khamenei dan slogan resmi pemakaman—“Kita Harus Bangkit”—telah dipasang. Ini bukan sekadar dekorasi. Ini adalah pernyataan politik: rezim ini masih hidup, masih kuat, masih mampu menggerakkan massa.
30 Negara dan Simbol Perlawanan
Pemakaman ini juga menjadi panggung diplomatik. Perwakilan dari lebih dari 90 negara dan pejabat dari 30 negara telah menyatakan kesediaan mereka untuk hadir. Iraq bahkan membentuk markas nasional tingkat tinggi di bawah pengawasan Perdana Menteri Irak untuk mengoordinasikan prosesi di Najaf dan Karbala.
“Salah satu tujuan upacara ini adalah untuk memperkuat kohesi nasional dan persatuan di antara kelompok politik, sosial, dan agama di Iran,” kata Pourjamshidian. Tujuan lainnya: “Memperkuat solidaritas di seluruh umat Islam dan menyatakan kesetiaan baru kepada Pemimpin Tertinggi yang baru.”
Di balik ritual berkabung, ada agenda politik yang jelas: melegitimasi kepemimpinan Mojtaba Khamenei di mata dunia dan di mata rakyatnya sendiri.
Gema dari Dalam dan Luar
Namun tidak semua suara sejalan dengan narasi resmi. Beberapa warga Iran mengkritik rencana pemakaman yang sangat tertunda ini. Yang lain—meski jumlahnya tidak jelas—justru merayakan kematian Khamenei. Reza Pahlavi, putra shah terakhir Iran, bahkan menulis di X: “Dengan kematiannya, Republik Islam secara efektif telah berakhir dan akan segera dikonsignasikan ke tong sampah sejarah.”
Pernyataan itu mungkin terlalu optimis. Tapi pertanyaannya tetap menggantung: dapatkah seorang pemimpin yang tidak pernah muncul di publik, yang kesehatannya dipertanyakan, yang legitimasinya diwariskan bukan dipilih—dapatkah ia mengendalikan negara yang sedang berduka sekaligus berperang?
Senja di Mashhad
Pada 9 Juli 2026, ketika jenazah Ayatollah Ali Khamenei akhirnya diturunkan ke tanah di sisi Makam Imam Reza, lebih dari sekadar seorang pemimpin akan dikubur.
Yang dikubur adalah era kepemimpinan karismatik yang telah mendefinisikan Iran selama hampir empat dekade. Yang dikubur adalah simbol perlawanan terhadap Barat yang telah menjadi identitas nasional. Dan yang dikubur—atau mungkin justru dilahirkan kembali—adalah masa depan Republik Islam itu sendiri.***





