Bantargebang Penghasil Metana Terbesar Kedua, Jakarta Didesak Berubah

Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi mencetak rekor sebagai penghasil emisi gas metana terbesar kedua sedunia. - ISTIMEWA
Laporan satelit Carbon Mapper menempatkan TPST Bantargebang di peringkat dua dunia penghasil metana TPA — memancarkan 6,3 ton per jam, lebih tinggi dari hampir semua negara.

Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi kini menjadi sorotan dunia. Berdasarkan laporan Spotlight on the Top 25 Methane Plumes in 2025: Landfills yang dirilis UCLA Emmett Institute pada 20 April 2026, Bantargebang menempati posisi kedua penghasil emisi metana TPA terbesar secara global.

Hanya TPA Campo de Mayo di Buenos Aires, Argentina, yang melampaui Bantargebang. Satelit Carbon Mapper mencatat Bantargebang memancarkan sekitar 6,3 ton metana per jam — angka yang membuat para ilmuwan iklim terkesiap.

Alarm dari Komisi C DPRD DKI

Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth, menegaskan persoalan ini sudah melampaui urusan kebersihan kota biasa.

Bacaan Lainnya

“Gas metana Bantargebang yang kini disorot dunia menjadi alarm bagi Jakarta. Persoalan sampah tak bisa lagi dianggap sekadar urusan pengangkutan dan pembuangan akhir,” kata Kenneth kepada Kompas.com, Minggu (17/5/2026).

Ia menilai pola pengelolaan “kumpul-angkut-buang” yang selama ini dijalankan Jakarta harus segera ditinggalkan. Tanpa transformasi kebijakan serius, kata dia, Jakarta sedang mewariskan bom waktu lingkungan kepada generasi berikutnya.

Arkea Metanogenik di Balik Gunungan Sampah

Pakar biorefinery limbah hayati dan dosen Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada, Hanifrahmawan Sudibyo, menjelaskan mekanisme ilmiah di balik fenomena ini.

Tumpukan sampah organik yang lembap dan padat menciptakan kondisi minim oksigen — zona ideal bagi mikroorganisme penghasil metana.

“Kondisi lembap dan terbatasnya suplai oksigen menjadi lingkungan yang ideal bagi mikroorganisme penghasil metana,” jelas Hanif, Senin (18/5/2026).

Pelakunya adalah arkea metanogenik — kelompok mikroba anaerob yang aktif pada fase akhir pembusukan. Gas metana yang mereka hasilkan memiliki daya pemanasan global 27 hingga 29,8 kali lebih kuat dibanding karbon dioksida.

Pos terkait