Sebelum mengenakan toga, Aipda Purnomo sudah lama mengenakan beban—utang, kemiskinan, dan janji kepada Tuhan yang tak pernah ia ingkari.
Minggu, 26 April 2026, ribuan kursi di Dyandra Convention Center Surabaya terisi penuh oleh keluarga yang datang menyaksikan wisuda.
Di antara ratusan wajah berseri yang mengenakan toga, ada satu yang menyimpan cerita berbeda—tentang janji sunyi yang dibuat di depan pintu Polda Jatim, bertahun-tahun sebelum hari itu tiba.
Aipda Purnomo, 46 tahun, baru saja menyelesaikan studi Magister Ilmu Hukum di Universitas Dr. Soetomo. Pangkatnya mungkin sudah dikenal, tapi bukan itu yang membuat namanya bersambung dari mulut ke mulut.
Di sudut-sudut Surabaya yang tak banyak orang sudi berlama-lama, nama “Polisi Belajar Baik” ini justru paling sering disebut—oleh ODGJ yang ia rawat, anak jalanan yang ia tampung, dan warga telantar yang ia jaga lewat yayasannya.
Cucian Piring dan Olok-olok Teman
Masa kecil Purnomo tak banyak berbeda dari jutaan anak Indonesia yang tumbuh di rumah tangga yang selalu kekurangan.
Saat teman-temannya asyik menonton hiburan orkes, ia berdiri di belakang warung kopi ibunya, mengangkat tumpukan piring kotor sebelum berangkat sekolah—dan mengulanginya lagi sepulang sekolah.
“Saya harus bantu ibu jualan kopi. Sebelum berangkat sekolah, wajib bantu dulu,” kenangnya usai prosesi kelulusan, dengan mata yang sejenak menerawang.
Yang paling menggores bukan kelelahan itu sendiri, melainkan pemandangan orang tuanya yang tak pernah benar-benar terbebas dari jeratan utang.
Dari situlah tekad tumbuh—pelan tapi keras: jika ia kelak berkecukupan, tak ada orang lain yang boleh merasakan penderitaan yang sama.
Ironinya, seragam cokelat itu sama sekali bukan impian awalnya. Purnomo muda justru bermimpi menjadi seorang Kiai, ingin menimba ilmu di pesantren.
Namun, restu ayahnya membawanya ke jalur lain—sekolah negeri, lalu merantau ke Surabaya, berjualan soto untuk bertahan hidup.
“Sekitar satu setengah tahun, tahun 1999 sampai 2000. Setiap minggu saya hanya bisa memberi 20.000 sampai 40.000 rupiah untuk ibu,” tuturnya.
Kontrak Batin di Depan Polda Jatim
Pintu berubah ketika sang tante membawa kabar: ada pendaftaran polisi. Tanpa persiapan materi, hanya berbekal doa, Purnomo melangkah ke Polda Jatim.
Sepanjang perjalanan dan proses seleksi, lisannya tak berhenti berselawat dan merapal Al-Fatihah—dan di situ pula ia membuat kontrak batin yang tak tertulis.
Jika diterima, ia akan menyedekahkan 10 hingga 20 persen penghasilannya untuk anak yatim dan kegiatan sosial. Janji itu tak pernah ia ingkari.
Kontrak itu ia tepati. Bukan dengan pernyataan, melainkan dengan kerja yang bisa dilihat di lapangan—ratusan ODGJ yang terawat, anak jalanan yang punya atap, dan warga telantar yang tidak lagi tidur di trotoar.
Masa Purna yang Sudah Disiapkan
Kini, saat banyak orang di usia yang sama menghitung hari menuju pensiun dengan kegelisahan, Purnomo justru sedang membangun.
Sebuah masjid dan tempat penampungan yang lebih layak tengah dalam persiapan—warisan nyata yang ingin ia tinggalkan sebelum masa dinas berakhir.
“Di usia ini, kita harus tahu arah mana yang akan kita tuju. Allah sudah beri kecukupan, sekarang saatnya saya lebih fokus beribadah dan menjadi manfaat bagi lingkungan,” katanya.
Toga yang ia kenakan hari itu bukan sekadar penanda akademis. Ia adalah titik di mana dua dunia bertemu—anak warung kopi yang pernah diolok teman-temannya, dan polisi yang kini merawat mereka yang tak punya siapa-siapa.
Janji lama itu rupanya tidak pernah selesai; ia hanya terus berganti bentuk.***





