Ketika kota-kota besar berlomba mengejar pendapatan, Surabaya memilih jalur yang lebih efektif: menjadikan konservasi mangrove sebagai sumber nilai ekonomi yang berkelanjutan.
Kebun Raya Mangrove Surabaya (KRM) kini tidak hanya berfungsi sebagai ruang pelestarian pesisir, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Surabaya. Di atas lahan seluas 34 hektare yang membentang di Gunung Anyar, Medokan Sawah, dan Wonorejo, kebun raya ini menegaskan bahwa wisata berbasis ekologi dapat berjalan seiring dengan kepentingan fiskal daerah.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya mencatat, hingga Juli 2025, KRM memiliki sekitar 74 jenis mangrove. Keanekaragaman ini menjadi fondasi utama pengelolaan kebun raya—bukan sekadar daya tarik wisata, tetapi modal ekologis yang menopang riset, pendidikan, dan jasa lingkungan. Di sinilah nilai ekonomi KRM dibangun: dari ekosistem yang dijaga, bukan dieksploitasi.
Kepala DKPP Surabaya, Antiek Sugiharti, menyebut pengelolaan Kebun Raya Mangrove sepanjang 2025 menunjukkan tren positif. Kontribusi KRM terhadap PAD mulai terasa signifikan sejak diberlakukannya Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2023 dan Peraturan Wali Kota Nomor 26 Tahun 2025 tentang Retribusi Daerah. “Dalam dua tahun terakhir, KRM menjadi salah satu penyumbang terbesar PAD objek wisata di bawah DKPP,” ujarnya, Rabu, 31 Desember 2025.
Meski demikian, Antiek menegaskan orientasi pendapatan bukan tujuan utama. Penguatan PAD ditempatkan sebagai efek turunan dari pengelolaan ekowisata yang tertata. Tarif resmi diterapkan secara proporsional, fasilitas ditingkatkan bertahap, dan daya dukung kawasan tetap menjadi batas yang tidak boleh dilanggar. Bagi Pemkot Surabaya, wisata mangrove bukan mesin uang jangka pendek, melainkan investasi lingkungan jangka panjang.
Data kunjungan memperlihatkan potensi tersebut. Sepanjang Januari hingga 21 Desember 2025, KRM Gunung Anyar dan Wonorejo dikunjungi 86.021 wisatawan, dengan lonjakan pada akhir pekan dan masa liburan. Akses transportasi publik—mulai feeder Wira Wiri hingga rute tertentu Bus Surabaya Sightseeing and City Tour—ikut memperluas jangkauan pengunjung tanpa mendorong pariwisata massal yang merusak.
Dampak ekonomi juga dirasakan masyarakat sekitar. Sebanyak 20 pelaku UMKM kuliner dan 25 pelaku UKM cenderamata beroperasi di kawasan KRM, dengan omzet kumulatif mencapai Rp605,26 juta hingga November 2025. Skema ini memperlihatkan bagaimana PAD, ekonomi warga, dan konservasi dapat saling menguatkan.
Di tengah tekanan pembangunan pesisir, Kebun Raya Mangrove Surabaya menawarkan model berbeda: wisata yang menghasilkan pendapatan, tanpa menggadaikan ekosistem. Sebuah pelajaran bahwa PAD tidak selalu harus lahir dari beton—kadang ia tumbuh dari akar-akar mangrove yang dijaga dengan sabar.***
