Si-Boyo, Pasar Digital Warga Surabaya

Launcing Aplikasi Si-Boyo. - Samudrafakta
Pemerintah Kota Surabaya kembali menguji batas antara tradisi dan teknologi dengan meluncurkan Si-Boyo, aplikasi belanja digital yang menautkan koperasi kelurahan dan UMKM dalam satu ekosistem ekonomi lokal.

Melalui Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan, Pemerintah Kota Surabaya memperkenalkan Si-Boyo sebagai platform yang dirancang untuk memperkuat digitalisasi ekonomi kerakyatan—tanpa mencabut akar gotong royong yang selama ini menopang denyut ekonomi warga. 

Aplikasi ini mengintegrasikan peran Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) dan pelaku UMKM, menjadikan koperasi bukan sekadar ruang simpan pinjam, melainkan simpul distribusi ekonomi digital.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, menyebut Si-Boyo sebagai respons atas perubahan zaman yang tak terelakkan. Menurutnya, digitalisasi koperasi bukanlah soal meninggalkan pola lama, melainkan memperluas daya jangkau ekonomi rakyat dengan medium baru. “Basisnya adalah ekonomi kerakyatan berbasis gotong royong dan semangat ekonomi lokal Surabaya sendiri. Ini adalah langkah kita membumikan Ekonomi Pancasila,” ujarnya, Minggu, 28 Desember 2025. 

Bacaan Lainnya

Di balik antarmuka digital, kata Agus, keberpihakan tetap ditujukan kepada UMKM, ibu rumah tangga, dan warga kecil yang ingin mandiri secara ekonomi.

Peluncuran ini juga membawa konsekuensi tata kelola. Agus mendorong para camat untuk melakukan pengawasan lebih ketat terhadap keberlangsungan KKMP dan UMKM di wilayah masing-masing. Bagi Pemkot, keberhasilan Si-Boyo tidak semata diukur dari jumlah unduhan, melainkan dari hidupnya roda ekonomi di tingkat kelurahan.

Dari sisi teknis dan operasional, Kepala Dinkopumdag Surabaya, Febrina Kusumawati, melihat Si-Boyo sebagai “lapak baru” bagi UMKM. Platform ini menjadi etalase tambahan untuk memperluas pasar produk lokal, di luar jalur konvensional. Saat ini, tujuh KKMP telah terhubung dengan Si-Boyo—KKMP Mojo, Kertajaya, Gunung Anyar, Jagir, Sumur Welut, Jajar Tunggal, dan Banyu Urip. Targetnya ambisius: seluruh 153 kelurahan di Surabaya terintegrasi dalam satu sistem yang sama.

Yang membedakan Si-Boyo dari platform belanja digital lain terletak pada mata rantai distribusinya. Sistem pengantaran memberdayakan warga setempat sebagai kurir. “Kita mengoptimalkan warga sekitar sebagai kurir. Jadi, ada pemberdayaan di wilayah tersebut. Masyarakat sekitar koperasi mendapatkan pendapatan baru,” kata Febrina. Di sini, logistik bukan sekadar soal kecepatan, tetapi juga instrumen pemerataan pendapatan.

Untuk menjaga harga tetap kompetitif, Pemkot Surabaya menyinergikan Si-Boyo dengan berbagai pihak, termasuk Produk Unggulan Daerah milik pemkot di sektor pangan serta produsen tangan pertama dari sektor swasta. Dari sisi permodalan, KKMP didukung oleh kemitraan dengan BMT Keuangan dan Bank Surabaya (Surya Artha Utama). Skema ini diharapkan memperkuat likuiditas koperasi sekaligus menjaga kesinambungan usaha UMKM.

Respons dari tingkat akar rumput pun relatif positif. Ketua KKMP Jajar Tunggal, Nur Wahyudi, menyebut Si-Boyo sebagai peluang besar bagi penguatan ekonomi warga. Ia mendorong agar pemangku kepentingan di tingkat lokal—mulai LPMK hingga RT dan RW—ikut bergabung sebagai anggota koperasi. Iuran pokok dan wajib, menurutnya, akan menjadi fondasi modal usaha bersama yang berkelanjutan. “Kami berharap kolaborasi ini menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang luas bagi Surabaya,” ujarnya.

Bagi warga Kota Pahlawan, Si-Boyo kini sudah dapat diunduh melalui Play Store. Prosesnya sederhana: pendaftaran identitas, lalu transaksi bisa dilakukan layaknya aplikasi belanja digital lainnya. Di balik kemudahan itu, Pemkot Surabaya sedang menaruh harapan besar—bahwa ekonomi lokal tak sekadar bertahan di tengah arus digitalisasi, tetapi menemukan bentuk barunya.***

Pos terkait