Pertempuran Surabaya 10 November bukan sekadar perang, tapi cermin jati diri bangsa Indonesia yang lahir dari keberanian dan rahmat Tuhan.
Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah, Syekh Muchammad Muchtarullahil Mujtaba Mu’thi atau Kiai Tar, menilai peristiwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukan sekadar kisah militer, melainkan penampakan jati diri bangsa dan rahmat khusus bagi Indonesia.
“Tanda-tanda rahmat dalam Pembukaan UUD 1945 itu rahmat khusus, bukan rahmat umum. Saat NKRI baru tiga bulan berdiri, dunia gempar melihat bukti jati diri bangsa ini,” ujar Kiai Tar dalam peresmian Pesantren dan Masjid Hayya ‘Alash Sholaah Hayya ‘Alal Falaah tahun 2023.
Dalam pandangannya, Pertempuran Surabaya 10 November 1945 merupakan “Perang Badar Kubro Indonesia”. Ia menyebut semangat para pejuang kala itu setara dengan perjuangan para nabi. “Semua nabi berani dan suci. Benderanya Rasulullah Saw. waktu perang kubro pun merah putih,” katanya.

Setahun sebelumnya, saat Tasyakuran Hari Pahlawan Nasional di Balai Pemuda Surabaya (9/11/2022), Kiai Tar mengingatkan bahwa bahaya terbesar bagi Indonesia bukan bencana alam, melainkan hilangnya jati diri bangsa. “Kalau jati diri terkikis, Indonesia tinggal nama dan bentuk, tapi jiwanya tiada,” ujarnya. Jati diri itu, lanjutnya, bersifat gaib, namun tampak dalam sejarah seperti Sumpah Pemuda, Proklamasi, dan Hari Pahlawan.
Dalam diskusi “Kupas Tuntas Peristiwa 10 November” yang digelar LKBN Antara Jatim, Ketua LVRI Surabaya Hartoyik menuturkan perlawanan Arek-Arek Suroboyo terhadap Sekutu terjadi dua kali: 27–29 Oktober dan 10 November 1945, dipicu oleh tiga provokasi besar—perobekan bendera Belanda di Hotel Orange, Resolusi Jihad 22 Oktober, dan terbunuhnya Brigjen Mallaby. Peristiwa itu kini dikenang bukan sekadar perang, tapi cermin jati diri bangsa Indonesia.
Selengkapnya baca di sini.





