Setelah banyak pengendara di Jawa Timur mengeluh motor mereka brebet usai isi Pertalite, Pertamina memastikan kualitas BBM tetap sesuai standar, sementara Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menurunkan tim Lemigas untuk menyelidiki penyebabnya.
Belakangan, keluhan soal motor brebet atau mogok setelah isi Pertalite ramai di berbagai daerah Jawa Timur: Lamongan, Gresik, Bojonegoro, Tuban, Surabaya, Sidoarjo, hingga Malang. Banyak pengendara terpaksa mendorong motornya ke bengkel setelah tangki mereka diisi Pertalite.
Menanggapi hal ini, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, memastikan bahwa seluruh proses distribusi BBM dilakukan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), termasuk uji mutu di laboratorium sebelum disalurkan ke masyarakat.
“Prioritas utama kami adalah menjamin keamanan suplai serta mutu produk BBM yang diterima masyarakat sesuai regulasi. Setiap tahapan distribusi dilakukan berdasarkan standar yang telah ditetapkan,” ujar Ahad dalam keterangan tertulis, Kamis (30/10).
Ahad menjelaskan, uji laboratorium lanjutan terhadap Pertalite dari Terminal BBM Tuban dan Surabaya menunjukkan hasil on spec, alias masih sesuai spesifikasi yang ditetapkan. Meski begitu, investigasi tetap berlanjut.
“Saat ini sedang berjalan pengecekan Quality and Quantity (QQ) BBM di level SPBU sebagai titik distribusi akhir kepada masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pihaknya telah menerima laporan keluhan masyarakat dan menurunkan tim Lemigas (Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi) untuk melakukan verifikasi lapangan.
“Lagi dicek di Lemigas kebenarannya dan saya minta laporannya,” kata Bahlil, dikutip dari Detik.com, Rabu (29/10/2025).
Bahlil menargetkan hasil pemeriksaan keluar dalam waktu singkat. “Paling lama saya butuh waktu satu sampai dua hari untuk laporan hasil penelitian,” ujarnya.
Ia juga menegaskan akan memberikan sanksi tegas jika ditemukan pelanggaran dalam distribusi atau mutu Pertalite yang tak sesuai standar.
“Kalau memang terbukti rusak, saya minta Pertamina menanggung seluruh kerugian konsumen dan segera menuntaskan masalah ini,” tegasnya.
Untuk menampung keluhan warga, Pertamina membuka 17 posko layanan pengaduan yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur, di antaranya:
Surabaya
- SPBU Arif Rahman Hakim No.150
- SPBU Kayoon No.48
- SPBU Wonorejo 1, Tandes
- SPBU Kebonsari Tengah No.64-66
Sidoarjo
- SPBU Medaeng, Waru
- SPBU Raya Tropodo
- SPBU Jenggolo No.33
- SPBU Kraton, Krian
Lamongan
- SPBU Mantup, Sumberdadi
- SPBU Sunan Drajat, Sidoharjo
Gresik
- SPBU Veteran No.2
- SPBU Dr. Wahidin Sudirohusodo
Bojonegoro
- SPBU MT. Haryono, Jetak
- SPBU Sawunggaling, Kadipaten
Tuban
- SPBU Gedongombo, Semanding
Kediri
- SPBU Joyoboyo, Kota Kediri
- SPBU Ahmad Dahlan, Mojoroto
Bagi warga di luar lokasi posko, laporan bisa disampaikan ke SPBU tempat pengisian terakhir atau langsung ke Pertamina Contact Center 135, email pcc135@pertamina.com, atau DM Instagram @pertamina.135.
Langkah pelaporan bagi konsumen:
- Laporkan kejadian ke petugas SPBU dengan menunjukkan struk pembelian BBM.
- Isi Form Pengaduan Konsumen berisi kronologi dan kondisi kendaraan.
- Sertakan data diri dan kontak aktif untuk tindak lanjut. Jika ada indikasi kerusakan akibat BBM, kendaraan akan diperiksa di bengkel resmi yang ditunjuk Pertamina, dan biaya perbaikan ditanggung Pertamina.
- Laporan dari SPBU akan diteruskan ke tim Pertamina Patra Niaga wilayah terkait untuk verifikasi dan tindak lanjut.
Baik Pertamina maupun Kementerian ESDM kini sama-sama menegaskan komitmen untuk menjaga transparansi hasil investigasi dan memastikan tidak ada masyarakat yang dirugikan akibat mutu BBM yang diduga bermasalah.
“Kalau memang ada yang salah, kami akan perbaiki dan ganti. Tapi kalau sesuai spesifikasi, publik juga harus tahu hasilnya,” ujar Bahlil.
Langkah kolaboratif ini diharapkan bisa meredakan keresahan masyarakat sekaligus memulihkan kepercayaan publik terhadap kualitas BBM nasional.***





