Surabaya Andalkan Digitalisasi dan Tim Marketing Aset untuk Genjot PAD

Kepala BPKAD Surabaya, Wiwiek Widyawati. - Istimewa
Pemkot Surabaya meluncurkan aplikasi SIKDASDA, targetkan Rp121 miliar dari optimalisasi aset tahun ini.

__________

Pemerintah Kota Surabaya menyiapkan strategi baru untuk menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD). Tidak lagi sekadar mengandalkan cara konvensional, Pemkot kini fokus pada tiga pilar: digitalisasi, promosi agresif, dan restrukturisasi organisasi.

Kepala BPKAD Surabaya, Wiwiek Widyawati, menyebut kunci transformasi ada pada aplikasi Sistem Informasi dan Pengelolaan Aset Daerah (SIKDASDA). Aplikasi ini berfungsi ganda: menata aset internal secara digital sekaligus menjadi etalase promosi aset kepada investor.

Bacaan Lainnya

“Digitalisasi lebih dari sekadar tren. SIKDASDA akan memangkas birokrasi, mempercepat administrasi, sekaligus membuka akses informasi aset kepada publik,” kata Wiwiek, Kamis, 28 Agustus 2025.

Menurut Wiwiek, aset daerah yang selama ini menganggur adalah kerugian besar. Dengan SIKDASDA, pemerintah bisa memetakan aset potensial lalu mempromosikannya secara aktif. “Kami tidak lagi menunggu pengusaha datang. BPKAD sekarang bekerja layaknya tim marketing profesional,” ujarnya.

Selain swasta, peluang juga dibuka bagi UMKM. Pemkot menyiapkan program mentoring agar pelaku usaha kecil paham prosedur penyewaan aset. “Kami ingin UMKM punya kesempatan yang sama untuk berkembang,” kata Wiwiek.

Dari sisi organisasi, Pemkot Surabaya mengkaji pembentukan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) khusus pemasaran aset. Tujuannya agar ada tim yang benar-benar fokus mencari peminat dan mengoptimalkan nilai aset.

Meski ada kritik soal harga sewa, Wiwiek menegaskan tarif ditetapkan berdasarkan penilaian independen Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP). “Harga wajar, sesuai nilai pasar,” katanya.

Pemkot menargetkan pendapatan Rp121 miliar dari pengelolaan aset daerah pada 2025, dari total target retribusi Rp486 miliar. Wiwiek optimistis, dengan strategi digitalisasi, promosi proaktif, dan pembenahan organisasi, Surabaya bisa makin mandiri secara finansial.***

Pos terkait