Selat Hormuz, Satu Titik yang Menentukan Harga Energi Dunia

Peta Selat Hormuz. -- SS PRESS TV
Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut—ia urat nadi energi dunia. Jika Iran menutupnya, harga minyak melonjak, dan kekuatan global bisa tersungkur tanpa satu pun peluru ditembakkan.

__________

Selat Hormuz, yang terletak di antara Iran dan Oman, adalah salah satu “senjata” mematikan bagi Iran untuk mengalahkan Israel-AS dan bahkan melumpuhkan dunia. Sebab, selat Hormuz menjadi titik krusial dalam sistem energi global. Jika pelayaran di Selat Hormuz dihentikan oleh Iran dalam satu hari saja, maka bisa dipastikan harga minyak mentah langsung terkerek.

Lebih dari 21 juta barel minyak mentah, kondensat, dan produk turunan minyak bumi melintasi selat ini setiap harinya. Angka tersebut setara dengan sekitar 21 persen konsumsi minyak cair dunia.

Bacaan Lainnya

Dalam laporan tersebut, US Energy Information Administration (EIA) menegaskan bahwa Selat Hormuz adalah chokepoint atau titik sempit paling vital dalam jalur perdagangan minyak global. Ketika pengiriman energi melalui selat ini terganggu—meski hanya dalam waktu singkat—dampaknya langsung terasa dalam bentuk keterlambatan pasokan, kenaikan ongkos kirim, dan lonjakan harga energi dunia.

“Selat Hormuz tidak memiliki alternatif praktis yang dapat menggantikannya secara efisien,” tulis EIA dalam laporannya yang juga mengutip data dari ClipperData, prospektus obligasi Saudi Aramco, Otoritas Pelabuhan Saudi, serta Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD).

Pipa Alternatif Masih Terbatas

Hanya dua negara di kawasan Teluk—Arab Saudi dan Uni Emirat Arab—yang memiliki jalur pipa minyak yang bisa mengalihkan sebagian aliran dari Selat Hormuz. Total kapasitas jaringan pipa dari kedua negara ini mencapai 6,5 juta barel per hari. Namun menurut data ClipperData yang dikutip EIA, pada akhir 2018 hanya 2,7 juta barel per hari yang digunakan. Artinya, masih ada sekitar 3,8 juta barel per hari kapasitas yang belum termanfaatkan.

Saudi Aramco, dalam prospektus obligasi tahun 2019-nya, menyebut bahwa sebagian besar ekspor minyak Saudi tetap melewati Selat Hormuz. Bahkan ekspor antar pelabuhan domestik Saudi hanya mencapai kurang dari 0,5 juta barel per hari.

Pasar Asia Dominan

Menurut EIA, sekitar 76 persen minyak mentah dan kondensat yang melewati Selat Hormuz pada 2018 ditujukan ke pasar Asia. Negara-negara seperti Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura menyerap sekitar 65 persen dari total aliran minyak mentah dan kondensat yang melewati selat tersebut.

Pos terkait