Impian Keluarga Joshi ke London Pupus di Udara

Keluarga Praktik Joshi berfoto bersama sebelum pesawat yang ditumpanginya jatuh. | Sumber Gambar: The Skin Doctor/NDTV
Kehidupan kadang hanya seutas benang. Begitu tipis, rapuh, dan bisa putus kapan saja. Seperti yang dialami keluarga Pratik Joshi, warga India yang selama enam tahun terakhir menetap di London untuk mengejar mimpi hidup lebih baik.

__________

Pratik, seorang profesional perangkat lunak, selama ini bekerja keras dari jauh demi mewujudkan harapan membawa istri dan ketiga anaknya menetap di Inggris. Mimpinya itu akhirnya terwujud. Baru dua hari lalu, sang istri tercinta, Dr Komi Vyas, yang dikenal sebagai dokter ternama di Udaipur, resmi mengundurkan diri dari rumah sakit tempat ia mengabdi. Mereka mengemas tas, berpamitan pada kerabat dan sahabat. Masa depan seolah terbentang di depan mata.

Namun, segalanya sirna dalam sekejap.

Pada Kamis pagi, 12 Juni 2025, keluarga itu menaiki pesawat Air India 171 rute Ahmedabad–London. Di dalam kabin, mereka sempat berswafoto. Senyuman anak-anak mereka—Miraya (8), serta si kembar Nakul dan Pradyut (5)—penuh semangat menyambut kehidupan baru. Foto itu dikirim ke keluarga dan teman, sebagai penanda babak baru dalam hidup mereka.

Namun pesawat itu tak pernah sampai ke tujuannya. Beberapa menit setelah lepas landas, Air India 171 jatuh. Tak ada yang selamat. Termasuk keluarga Joshi.

Berita duka ini segera menyebar. Media-media utama India seperti NDTV dan News18 mengonfirmasi kabar tersebut. Tak ada informasi yang menyangkal tragedi itu. Pihak maskapai menyebutkan ada 242 penumpang di dalam pesawat naas itu. Semuanya tewas.

Sepupu Pratik, Nayan, mengatakan bahwa keluarga mereka berangkat ke Ahmedabad sehari sebelum keberangkatan. “Pratik sempat datang ke rumah dua hari lalu, menjemput istri dan anak-anaknya. Beberapa anggota keluarga lain ikut mengantar mereka ke bandara. Kami semua tidak menyangka, perpisahan itu adalah yang terakhir,” ujarnya.

Ayah Pratik dikenal sebagai ahli radiologi ternama, sementara ayah Komi adalah pegawai di Dinas Pekerjaan Umum. Kedua keluarga terpukul berat mendengar kabar ini.

Tak ada yang siap kehilangan dalam bentuk secepat dan setragis ini. Satu keluarga utuh, yang begitu dekat dengan mimpi, justru lenyap di ambang harapan.

Sebelum terbang, Dr Joshi sempat berkata kepada kerabatnya, “Kami sangat bersyukur bisa bersama sebagai keluarga dan memulai babak baru di London.” Kalimat itu kini tinggal kenangan.

Dalam tragedi ini, dunia kembali diingatkan: hidup bisa berubah hanya dalam hitungan menit. Maka, selama kita masih punya waktu, cintailah lebih dalam, dan jangan menunda kebahagiaan.

Semoga mereka beristirahat dalam damai.***