Rodrigo Duterte: Antara Pahlawan Davao dan Kontroversi HAM

Rodrigo Duterte
Rodrigo Duterte saat masih menjabat sebagai Presiden Filipina. Dia ditangkap atas tuduhan kejahatan manusia saat memberantas jaringan narkoba. Foto:Instagramrodyduterte
Rodrigo Roa Duterte, pria yang pernah begitu berkuasa di Filipina, kini menghadapi babak baru dalam hidupnya. Sang mantan presiden yang dikenal dengan julukan The Punisher itu akhirnya tak berkutik di tangan polisi, Selasa, 11 Maret 2025.

Tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan membawanya ke pengadilan Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Ia akan mempertanggungjawabkan kebijakan kerasnya dalam perang melawan narkoba yang membayangi Filipina selama bertahun-tahun.

Duterte lahir di Maasin, Filipina, pada 28 Maret 1945. Politik sudah mengalir dalam darahnya sejak kecil. Ayahnya, seorang gubernur provinsi Davao, dan ibunya, seorang aktivis, membentuk karakter politiknya yang keras. Ibunya terlibat dalam gerakan yang menggulingkan Ferdinand Marcos pada 1986. Dari lingkungan inilah Duterte tumbuh—keras, tanpa kompromi.

Pendidikan politiknya ditempa di Lyceum of the Philippines University, tempat ia menamatkan studi ilmu politik pada 1968. Gelar sarjana hukum diraihnya dari San Beda College pada 1972. Karier hukumnya dimulai di kejaksaan Kota Davao sebelum akhirnya duduk di kursi wakil wali kota pada 1986. Dua tahun berselang, ia naik menjadi wali kota Davao, sebuah titik balik yang mengantarnya menuju puncak kekuasaan.

Bacaan Lainnya

Davao yang dulu dikenal sebagai kota kriminal berubah di tangannya. Duterte mengubahnya menjadi salah satu kota teraman di Asia Tenggara. Tapi caranya kontroversial. Amnesty International dan Human Rights Watch menudingnya terlibat dalam lebih dari seribu eksekusi di luar hukum. Duterte tak menampik. “Kalau kalian jadi penjahat, siap-siap mati,” kata Duterte melansir laman Britannica.

Ketika ia memutuskan maju sebagai kandidat presiden pada 2016, banyak yang skeptis. Namun, janji pemberantasan narkoba dan korupsi menyedot perhatian rakyat Filipina yang lelah dengan elite politik tradisional. Gaya bicaranya yang kasar, bahkan vulgar, justru memikat. “Saya akan memberi makan ikan-ikan di Teluk Manila dengan mayat para penjahat,” ucapnya dalam kampanye. Pada 9 Mei 2016, ia menang telak.

Perang Melawan Narkoba

Duterte langsung tancap gas. Perang terhadap narkoba menjadi prioritas. Dalam enam bulan pertama, lebih dari 6.000 orang tewas. Mayat-mayat berserakan di jalanan. Rumah duka penuh sesak. Jenazah tanpa identitas dikubur massal. Gereja Katolik dan kelompok hak asasi manusia mengecam, tapi Duterte tak bergeming. “Gereja lebih korup daripada pemerintah,” katanya.

Ketegangannya dengan negara-negara Barat meningkat. Ketika Amerika Serikat menangguhkan penjualan senjata ke Filipina karena pelanggaran HAM, Duterte beralih ke Rusia dan Tiongkok. “Kami tidak butuh kalian,” ujarnya tajam. Di dalam negeri, tantangan datang dari kelompok militan yang berafiliasi dengan ISIS. Mei 2017, mereka menguasai kota Marawi. Duterte mengumumkan darurat militer di Mindanao. Konflik berakhir setelah lima bulan pertempuran sengit.

Februari 2018, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mulai menyelidiki dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam perang melawan narkoba Duterte. Sebagai respons, Duterte menarik Filipina dari ICC pada 2019. Tapi tekanan dunia internasional tak surut. Pada 2021, Maria Ressa, jurnalis yang kerap melaporkan pelanggaran HAM di era Duterte, dianugerahi Nobel Perdamaian. Duterte membalas dengan menekan kebebasan pers. Ressa beberapa kali ditangkap dengan tuduhan kontroversial.

Di dalam negeri, popularitas Duterte tetap tinggi. Pemilu legislatif 2019 menjadi bukti: rakyat masih di pihaknya. Ia memastikan mayoritas di DPR dan Senat. Namun, konstitusi melarangnya maju dua periode. Ia mencoba berbagai cara agar tetap berkuasa, termasuk mencalonkan diri sebagai wakil presiden pada 2021. Tapi tak lama kemudian, ia mengundurkan diri dan menyatakan pensiun dari politik.

Pemilu 2022 menjadi babak baru bagi Filipina. Duterte mendukung putrinya, Sara Duterte, yang akhirnya terpilih sebagai wakil presiden. Tapi dalam pemilihan presiden, Duterte memilih diam. Ia tak mendukung Ferdinand Marcos Jr., putra dari diktator yang dulu digulingkan ibunya. Marcos Jr. menang telak, menandai kembalinya dinasti politik lama di Filipina.

Kini, Duterte berada di ujung tanduk. Tak lagi terlindungi kekuasaan, ia berhadapan dengan tuntutan hukum yang menghantuinya. Polisi akhirnya menangkap pria yang dulu begitu ditakuti itu. Mahkamah Pidana Internasional menunggunya. Babak terakhir The Punisher dimulai.***

Pos terkait