YOGYAKARTA— Inovasi pendidikan Yayasan Pondok Pesantren Kreatif Baitul Kilmah tak pernah henti. Dan inovasi itu pun berhasil memunculkan potensi peserta didik yang hampir tidak pernah dielaborasi oleh lembaga pendidikan pada umumnya: keterampilan di bidang seni.
Inovasi muncul, salah satunya, ketika Baitul Kilmah merasa jika pendidikan informal dan nonformal yang diselenggarakan sejak 2009 dirasa kurang cukup. Pada tahun 2019—atau setelah lembaga pendidikan ini berjalan selama 10 tahun—mulai muncul gagasan mendirikan lembaga pendidikan formal.
Madrasah Aliyah (MA) Peradaban Dunia dipilih sebagai nama. Sejak Juni-Juli 2021 hingga sekarang, jenjang pendidikan setingkat SMA ini sudah berjalan 3 (tahun).
Pada bulan Juni-Juli 2024 ini, Baitul Kilmah akan memiliki angkatan pertamanya. Tak banyak siswa/i MA Peradaban Dunia. Dari kelas X, XI dan XII, total hanya ada 24 santri.
“Para pengelola pendidikan Baitul Kilmah memiliki keyakinan bahwa kualitas jauh lebih utama dari pada sekadar kuantitas,” kata pengasuh Ponpes Kreatif Baitul Kilmah, Aguk Irawan.
Dengan modal 24 orang siswa, kata Aguk, visi besar Baitul Kilmah harus terwujud melalui mereka. “Seorang santri tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi harus juga menjadi penulis, penerjemah, dan pencipta,” tegasnya.
Pada tahun ke-4-nya, di tahun 2024 ini, visi pendidikan Baitul Kilmah diperluas. Salah satu langkah yang merepresentasikan misi tersebut adalah membuka 40 kuota untuk siswa atau siswi baru. “Dengan kuota yang semakin besar berarti tanggungjawab yang dipikul juga semakin berat,” terang Aguk.
Langkah berani tersebut muncul karena, kata Aguk, Baitul Kilmah merujuk pengalaman mereka selama 3 tahun terakhir, di mana santri di tiga kelas terbukti berhasil menjadi penulis dan melahirkan banyak karya buku—baik karya personal maupun antologi kolektif.
Bakat-bakat baru juga bermunculan di tengah proses belajar MA Peradaban Dunia, seperti di bidang kesenian, baik seni lukis maupun seni perfilman.





