Dari Literasi Menuju Kesenian
Pada dasarnya, literasi dan kesenian adalah dua disiplin yang berdekatan secara teoritik dan konseptual. Tidak terlalu berjauhan. Namun, “Bagi lembaga pendidikan yang menekankan pentingnya output berupa karya nyata dari pada sekedar transfer pengetahuan, mendekatkan literasi dan kesenian menjadi tantangan baru,” terang Aguk Irawan.
Pada gilirannya, lanjut Aguk, MA Peradaban Dunia memerlukan para pendidik profesional di bidang seni perfilman. Maka, dihadirkanlah dua tenaga pengajar di MA Peradaban Dunia yang berasal dari kampus Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Mereka adalah Rizky Fachrul Fardani dan Elmaktashif Rezda Ahmad.
Sejak tahun ajar 2023-2024, laboratorium komputer MA Peradaban Dunia tidak lagi dipakai semata-mata untuk kegiatan literasi, tetapi juga banyak untuk kepentingan multimedia. Software yang diinstal tidak lagi sebatas Microsoft Word tetapi juga Freehand, CorelDRAW, Adobe Photoshop dan lain-lainnya. Pasalnya, para siswa butuh menggunakan komputer untuk kepentingan menyajikan suara, teks, gambar, animasi bahkan video dengan software tertentu.
Pada titik ini, perkembangan pendidikan di Baitul Kilmah bisa dikatakan berkembang cukup pesat. Dalam waktu 10 tahun pertama, 2009-2019, Pesantren berhasil mencetak para penulis dan penerjemah. Pada 3 tahun berikutnya, 2021-2024, berhasil mencetak para seniman yang sekaligus menguasai literasi.
Wajah Pesantren Kreatif Baitul Kilmah pada 13 tahun yang lalu, menurut Aguk Irawan, berbeda dari wajah Pesantren Kreatif Baitul Kilmah dalam tahun-tahun terakhir.





