Jihad Literasi Pesantren Kreatif Baitul Kilmah (3): Memunculkan Potensi Seni Para Santri, Meraih Capaian Melebihi Ekspektasi

Kegiatan bedah film tentang Wali Songo di Pesantren Kreatif Baitul Kilmah, Bantul, pada bulan Ramadhan 1445 H. Potensi seni para santri bisa muncul optimal di Pesantren Baitul Kilmah. FOTO: Dok. Baitul Kilmah

“Pengertian santri juga terus berkembang. Sebelumnya, santri dipahami sebagai sosok yang menguasai ilmu agama sekaligus penulis dan penerjemah. Namun, dalam tahun-tahun terakhir ini, definisi santri Baitul Kilmah adalah sosok yang menguasai ilmu agama, menjadi penulis dan penerjemah, sekaligus menjadi konten kreator dan seniman (baik seniman lukis maupun seniman film). Definisi lahir dari perjalanan panjang perjuangan menjalankan pendidikan Islam, khususnya pondok pesantren,” papar Aguk Irawan.

Dalam konteks ini, kata Aguk, Baitul Kilmah sebenarnya sedang aktif terlibat dalam merekonstruksi pengertian santri dan pendidikan pesantren. Pertama, di tengah dominasi pendidikan umum, yang terus merangsek ke dalam sistem pendidikan Islam kadang kala hal itu mengaburkan substansi pendidikan Islam.

Bacaan Lainnya

Kedua, jika pun ada upaya instalasi terus-menerus pendidikan umum ke dalam pendidikan Islam, proses integrasi tidak berjalan lancar. “Hal itu dibuktikan berdasarkan persinggungan para pengurus Baitul Kilmah dengan tamu-tamu yang berasal dari pesantren salaf, pesantren modern yang mengadopsi sistem pendidikan umum, dan lembaga perguruan tingi umum,” terang Aguk.

Pesantren Salaf yang kaya warisan literasi klasik pada akhirnya minus ilmu dan skill umum. Pesantren modern yang telah menerima sistem pendidikan umum terlihat sangat canggung dalam memihak. Lembaga pendidikan umum juga minus ilmu agama. “Di tengah tiga varian lembaga pendidikan ini, Baitul Kilmah termasuk jenis kedua, yaitu pesantren yang  memadukan pendidikan agama dan umum,” tegas Aguk.

Sebagai pembeda dari jenis pesantren modern lainnya, kata Aguk, Baitul Kilmah menciptakan diferensiasi dengan menekuni tiga disipin utama: literasi, kesenian, dan penerbitan. Masing-masing memiliki target pencapaian, program dan kegiatan, serta pendamping yang profesional di bidangnya.

Untuk mewujudkan tiga disiplin dan skill tersebut, Yayasan Pondok Pesantren Kreatif Baitul Kilmah menyelenggarakan tiga jenis pendidikan: formal, nonformal, dan informal.[] bersambung

Pos terkait