Fakta-Fakta Seputar Tradisi Bukber Ini Perlu Diketahui, Apa Saja?

Suasana buka puasa bersama di Masjid Istiqlal, Jakarta. (Dok. SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
JAKARTA—Buka puasa bersama, atau yang di masyarakat Indonesia kekinian lebih dikenal sebagai bukber, sudah menjadi tradisi yang mendarah daging di kalangan masyarakat Indonesia kala Ramadhan tiba. Bukber biasanya menjadi wahana silaturahmi, kumpul bersama keluarga, hingga momen untuk bertemu teman lama. Dan ternyata, ada fakta-fakta menarik terkait tradisi ini.

Apa saja? Yuk, simak.

Sunnah Nabi Muhammad Saw.

Tradisi buka bersama ternyata sudah dilakukan sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Rasulullah Saw. diriwayatkan pernah mengikuti buka bersama di rumah salah satu sahabatnya, Sa‘d bin Ubadah. Hal ini sebagaimana diungkap oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar (Beirut: Dar Ibn Hazm, 2004), halaman 331-332.

Imam Nawawi meriwayatkan, dalam kitab Sunan Abu Dawud dan lainnya, dengan sanad sahih, dari sahabat Anas, ia berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah mendatangi Sa‘d bin Ubadah. Sa‘d kemudian menyuguhkan roti dan anggur kering (kismis) kepada Rasulullah. Tak lama kemudian, Rasulullah memakan hidangan tersebut dan mengucapkan doa berikut: Afthara ‘indakumus shâimûn wa akala tha‘âmakumul abrâru wa shallat ‘alaikumul malâ’ikatu. (Telah berbuka di samping kalian orang-orang yang berpuasa, dan dia memakan hidangan kalian, dan para malaikat bershalawat kepada kalian).”

Bacaan Lainnya

Selain riwayat dari Sunan Abu Dawud, Imam Nawawi juga meriwayatkan doa buka bersama Rasulullah ini dalam kitab Ibnu Sunni. Dari Anas, dia berkata bahwa jika Nabi Muhammad Saw buka puasa bersama orang-orang, beliau mendoakan mereka dengan mengucapkan doa sebagaimana doa di atas.

Itulah doa yang diajarkan oleh Rasulullah saat buka bersama sahabatnya. Dengan dibacakannya doa buka bersama ini, diharapkan Allah menurunkan aneka kebaikan dan keberkahan kepada para peserta yang hadir, terlebih kepada tuan rumah atau panitia. 

Meski bukber tidak wajib, Nabi Saw menganjurkan untuk makan bersama. Karena makan bersama bisa mendatangkan keberkahan yang luar biasa. Dengan demikian, buka puasa secara bersama-sama diharapkan akan membawa keberkahan.

Makan bersama-sama ini sebagaimana bunyi teks hadits yang artinya: “Para sahabat Nabi Muhammad Saw. bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kita makan tapi tidak kenyang?’ Kemudian, Rasulullah balik bertanya,”Apa kalian makan sendiri?.” Para sahabat menjawab, “iya”. Mendengar hal itu, kemudian Rasulullah Saw. menjawab lagi, “Makanlah kalian bersama-sama dan bacalah Basmalah, maka Allah akan memberikan berkah kepada kalian semua.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Imam Ahmad, dan Ibnu Hibban).

Masuk Daftar Warisan Budaya Tak Benda UNESCO

Badan kebudayaan PBB yaitu UNESCO, pada Rabu, 6 Desember 2023, memasukkan buka puasa bersama saat bulan suci Ramadhan dalam daftar warisan budaya tak benda.

Usulan ini diajukan oleh Iran, Turki, Azerbaijan, dan Uzbekistan. Pengakuan ini diserahkan oleh Komite Antarpemerintah untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda yang bertemu di Botswana pada Senin, 4 Desember 2023.

“Buka puasa setelah azan Magrib dikaitkan dengan pertemuan yang memperkuat ikatan keluarga dan komunitas, serta mempromosikan amal, solidaritas, juga pertukaran sosial. Buka puasa biasanya dilakukan secara bersama-sama oleh umat Islam selama bulan Ramadhan, baik dengan keluarga maupun teman. Oleh karena itu, buka puasa juga identik dengan suasana kekeluargaan dan kekraban,” demikian pernyataan UNESCO, dikutip dari AFP, Senin (17/3/2024).

“Waktu buka puasa ditandai dengan masuknya magrib. (Buka puasa) memperkuat ikatan keluarga dan masyarakat serta mempromosikan jiwa sosial, solidaritas, serta interaksi sosial,” lanjut pernyataan UNESCO.

Pos terkait