Fakta-Fakta Seputar Tradisi Bukber Ini Perlu Diketahui, Apa Saja?

Suasana buka puasa bersama di Masjid Istiqlal, Jakarta. (Dok. SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
Presiden Jokowi Pernah Melarangnya

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah mengeluarkan larangan menggelar acara buka puasa bersama selama Ramadhan 2023. Larangan tersebut menyasar pada Menteri Kabinet Indonesia Maju, Jaksa Agung, Panglima TNI, Kapolri serta Kepala Badan/Lembaga.

Dalam surat bernomor 38 /Seskab/DKK/03/2023 yang diteken Sekretaris Kabinet Pramono Anung pada 21 Maret 2023, tertulis soal penyelenggaraan buka puasa bersama tersebut. Seluruh pejabat dan aparatur negara diminta mematuhi arahan Presiden itu dan meneruskannya kepada semua pegawai di instansi masing-masing.

Bacaan Lainnya
Ada Tiga Tradisi Bukber di Indonesia

Marzuki Wahid Peneliti Fahmina-institute Cirebon, membagi tradisi bukber ke dalam tiga jenis. Pertama, buka puasa yang hanya diikuti oleh internal anggota lembaga saja.

Ritus mereka pada umumnya, selain makan dan minum bersama, juga ada ceramah agama oleh petinggi lembaga atau tokoh agama kondang yang sengaja diundang pada sebelum buka puasa atau sebelum shalat tarawih. Lembaga pemerintah dan perusahaan atau lembaga non-pemerintah yang relatif mapan biasanya masuk ke dalam kelompok ini.

Kedua, kelompok yang menyelenggarakan bukber untuk kelompok sosial lain yang membutuhkan. Contohnya, suatu kelompok atau institusi mengadakan bukber untuk masyarakat miskin kota (urban poor community) dan orang-orang yang dalam bepergian (musafir).

Kelompok ini sengaja menyediakan makanan dan minuman berbuka puasa bagi kelompok sosial lainya. Tidak ada agenda lain, kecuali semata-mata menyediakan bahan meterial buka puasa. Biasanya rutin harian atau mingguan.

Yang masuk dalam kelompok ini adalah masjid, mushala, atau lembaga sosial lain yang biasanya mewadahi atau bersemangat memburu infak, sedekah, dan zakat dari orang-orang kaya di sekelilingnya. Jadi, sifatnya karitatif (santunan).

Ketiga, kelompok yang menyelenggarakan buka puasa bersama untuk anggota lembaga dan publik sekaligus. Tetapi, publik yang terlibat dalam buka puasa kelompok ini sangat terbatas, tidak massif seperti kelompok kedua.

Pada umumnya yang masuk ke dalam kelompok ketiga ini adalah lembaga non-pemerintah yang relatif tidak mapan dan berideologi anti-kemapanan, yang terus berjuang untuk transformasi sosial di dalam tatanan kehidupannya.

Cara masyarakat menjalankan bukber mungkin berbeda-beda, namun semua ini memiliki kesamaan, mereka berbagi kebersamaan, merayakan bulan suci dengan suka cita, dan berharap terberkahi.◼︎

Pos terkait