18 Film tentang Perjuangan Rakyat Palestina yang Wajib Anda Tonton

Keterangan Foto: Kolase Judul Film tentang Aksi Genosida Israel terhadap Rakyat Palestina. FOTO: The New Arab (TNA).
13. The Idol (2015)

Film fitur mengharukan ini didasarkan pada kisah nyata Mohammed Assaf (Tawfeek Barhom), penyanyi asal Jalur Gaza yang memenangkan musim kedua kontes lagu Arab Idol pada tahun 2013. Dibuat secara akurat dengan beberapa elemen naratif fiksi, film ini berkisah tentang persahabatan dan impian masa kecil yang menjadi kenyataan.

Hany Abu-Assad, sutradara Palestina kenamaan dunia (dua kali masuk nominasi Oscar untuk Film Asing Terbaik), memposisikan dirinya dalam film ini sebagai duta besar suatu negara dan syarat menggambarkan perjuangan warga Palestina di Gaza.

Bacaan Lainnya
14. Wajib (2017)

Abu Shadi, diperankan oleh Mohammad Bakri, adalah seorang ayah Kristen yang bercerai dari Nazareth. Menurut adat setempat Palestina, ia harus mengantarkan sendiri undangan pernikahan putrinya kepada setiap tamu. Yang mendampinginya adalah putranya, Shadi (Saleh Bakri). Shadi, seorang arsitek muda, memilih mengasingkan diri dan kini tinggal di Roma.

Dia menjalin hubungan dengan putri seorang anggota Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan menganut gaya hidup liberal. Drama ini menggali kompleksitas hubungan ayah-anak mereka, yang secara tidak langsung mencerminkan hubungan masyarakat Palestina.

Sutradara Annemarie Jacir dengan terampil memotret kehidupan sehari-hari di Nazareth, kota Arab Palestina terbesar di Israel, yang tidak hanya berfungsi sebagai latar belakang tetapi juga muncul sebagai protagonis ketiga dalam film tersebut.

15. It Must Be Heaven (2019)

Seorang pria Palestina memulai pencarian tanah air baru dengan meninggalkan Nazareth dan melakukan perjalanan pertama ke Paris, lalu New York. Di kota-kota baru ini, ia menemukan dunia nyata yang berfungsi sebagai mikrokosmos Palestina. Film mirip sketsa ini menggambarkan kesehariannya dengan pendekatan yang unik dan satir.

Pemeran utamanya tak lain adalah sutradara film tersebut, Elia Suleiman sendiri. Mirip dengan karya-karya sebelumnya, dialognya minim, dengan kata-kata yang diucapkan menyerupai monolog ritmis dan musikal. Melalui gaya sinematiknya yang unik, Suleiman menggambarkan suatu bentuk aksi pasif.

Pos terkait